Berita
Perjalanan Menuju Curug Luhur, Dari Jalan Menyamping Sampai Bertemu Burung Liar


Print


Mendengar Situ Sipatahunan di Desa Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung mungkin sudah banyak orang yang tahu. Kali ini kita akan sedikit membahas lokasi wisata lainnya yang tak jauh dari Situ Sipatahunan dan belum banyak dikunjungi.

Namanya Curug Luhur. Lokasinya berada 600 meter dari Situ Sipatahunan. Aliran airnya sendiri berasal dari Gunung Payung. Wilayahnya masuk ke Baleendah yang terkenal dengan kawasan industri.

Menuju lokasi ini harus melalui jalan memutar dari Situ Sipatahunan dengan melintasi jalan setapak berbatu. Meski bisa dilewati oleh kendaraan roda dua maupun roda empat, namun sangat disarankan agar memilih berjalan kaki, selain lebih sehat, pengunjung akan disuguhkan keindahan alam berupa desiran suara pohon bambu yang tertiup angin dan nyaringnya suara serangga yang saling bersahutan. Suasana ini seolah mengajak wisatawan untuk merasakan bertualang di alam bebas.

Di sini akan dijumpai berbagai objek keindahan lainnya, seperti Batu Sumpit, warga setempat mengartikan sumpit sebagai sempit. Konon sebelum dibuatnya jalan untuk dapat menikmati Curug Luhur, warga harus berjalan miring menyamping layaknya jalan kepiting, karena jalannya setapak dan sangat sempit. Batu Sumpit cukup terkenal di kalangan kelompok pencinta alam sebagai ajang latihan panjat tebing, karena rintangan medan yang ditempuh serta memiliki ketinggian sekitar 20 meter di atas permukaan tanah.

Setelah melewati Batu Sumpit, pengunjung harus melalui jalan tanah setapak menanjak dan menurun sepanjang 300 meter guna menjangkau Curug Luhur. Meski telah disediakan pegangan yang terbuat dari bambu di sisi jalan, namun licinnya tanah yang disiram hujan membuat pengunjung harus berhati-hati untuk melewatinya. Selain rintangan jalan tanah setapak, pengunjung juga harus mengantisipasi gigitan nyamuk rawa dan jaring laba-laba yang banyak tergantung di pepohonan sepanjang jalan.

Pengunjung jangan kaget jika melihat burung liar yang hinggap di pepohonan dan harus berhati- hati terhadap berbagai jenis ular yang akan menampakan diri di lokasi tertentu.

Rasa lelah melewati berbagai rintangan di sepanjang jalan akan terobati, manakala suara derasnya air dari Curug Luhur mulai terdengar dan menyapa para pengunjung dari radius 50 meter.

Sejuknya suasana di depan curug dan tenangnya suara alam, membuat siapapun tidak menolak untuk segera menceburkan diri atau sekadar berdiri di bawah segarnya Curug Luhur tersebut.

Menurut Ketua RW 05 Kampung Leuwi Cipatahunan, Desa Baleendah, Ujang Rohadjat, mengatakan bahwa kawasan Situ Sipatahunan dulunya sebagai tempat pembuangan sampah warga Kampung Leuwi Cipatahunan sampai akhirnya pihak pemerintah melakukan renovasi alih fungsi dari pembuangan sampah menjadi objek wisata dan cagar budaya.

"Dulunya memang tempat pembuangan sampah, tapi sekarang sudah ada perhatian dari pemerintah untuk mengalih fungsikan menjadi cagar budaya. Sejak saat itu warga sekitar mulai membenahi sekaligus merawat Situ Sipatahunan namun secara bertahap," ujarnya.(dd)
Sumber : http://www.jabar.tribunnews.com/2017/01/10/perjalanan-menuju-curug-luhur-dari-jalan-menyamping-sampai-bertemu-burung-liar



   

Berita Lainnya

Garut Kembangkan Wisata Vulkanik Talaga Bodas dan Papandayan
Meniti Ribuan Tangga Batu di Antara Hutan Belantara Menuju Curug Cibeureum
Bodyrafting Sungai Citumang Pangandaran Bikin Adrenalin Naik Tinggi
Situs Gunung Kasur di Cianjur, Jadi Sorotan Wisatawan
Jalan-jalan ke Taman Seni di Bandung Yuk!


Kembali Ke Index Berita