Berita
Curug Ciputrawangi, Air Terjun Sunyi di Kaki Gunung Tampomas


Print


GEMURUH air curug Ciputrawangi terdengar bagai ucapan selamat datang yang penuh keramahan dari seorang pertapa tua di kaki gunung.

Permukiman warga yang lengkap dengan gang-gang sempitnya menyamarkan letak air terjun Ciputrawangi di Desa Narimbang, Kecamatan Conggeang, Sumedang. Hanya ada plang nama di ujung gang yang menjadi penanda lokasinya.

Kami, rombongan Matabumi Jelajah Geotrek yang berangkat dari Bandung sempat megira tersesat karena benar-benar tidak ada penunjuk arah yang pasti menuju lokasi air terjun.

Usai melewati permukiman penduduk, kami mendapati jalanan menanjak yang masih dipayungi pohon-pohon berukuran raksasa. Seiring perjalanan yang semakin masuk ke dalam hutan, gemericik air terdengar semakin jelas.
Setelah sekira 15 menit mendaki, tibalah kita di curug dengan ketinggian sekitar 7 meter itu. Batuan vulkanik tua dari lava andesit yang membeku dan membentuk struktur berupa lembaran-lembaran menjadi landasan bagi air terjun itu. Meski terasa sunyi dan menenangkan, penting untuk tetap waspada karena terkadang hewan liar turun untuk minum air di curug Ciputrawangi.

Di bawah guyuran air terjun, Anda bisa bermain sepuasnya. Kolam penampung air terjun pun hanya setinggi lutut orang dewasa sehingga aman bagi anak-anak. Airnya dingin menyegarkan seketika menghilangakan lelah usai mendaki jalan berbatu.

Namun ingat, jangan menggunakan sabun, sampo, atau detergen. Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung Titi Bachtiar yang ikut dalam rombongan menyatakan, aliran sungainya merupakan sumber air utama warga. Rimbunnya pohon merupakan reservoir air penting bagi penduduk di bagian timur gunung Tampomas.

Masih sedikitnya jejak sampah plastik menjadi bukti bahwa kawasan itu belum banyak terjamah wisatawan dari kota. Kebersihan memang selalu menjadi masalah klasik di lokasi wisata alam. Sampah, akan lebih berbahaya jika terdapat di sekitar sumber mata air penduduk seperti di air terjun yang biasa disebut Curug Narimbang itu.

Dari Kota Bandung, curug Ciputrawangi bisa diakses lewat jalan raya Bandung-Cirebon via Jatinangor. Setelah melewati pusat kota Sumedang, tepatnya di kawasan Cibeureum, Anda harus mengambil rute berbelok menuju Jalan Legok-Conggeang. Di sana, jalan mulai menyempit dan hanya bisa dilalui satu mobil. Sekira 500 meter setelah SDN Narimbang I, Anda akan menemukan persimpangan menuju jalan Obobjong. Ikuti terus jalan itu sampai Anda menemukan plang penanda curug Ciputrawangi.

Karena belum populer, biasanya wisatawan yang datang berasal dari Sumedang, Bandung, atau Cirebon. Saat akhir pekan, pengunjungnya berksiar antara 40-50 orang.

Ada dua versi, secara etimologi, tentang kenapa daerah letak curug itu disebut Conggeang. Versi pertama punya kaitan dengan Cut Nyak Dien yang diasingkan ke Sumedang. Conggeang berasal dari kata Congdang atau kependekan dari rencong Sumedang. Versi kedua menyatakan Conggeang berasal dari kata congdang, kependekan dari ’congo’ atau ujung yang runcing dan ’dangiang’ atau kewibawaan dan seseuatu yang baik.

Di sepanjang jalan terutama di Cimalaka dan Conggeang, truk-truk pengangkut pasir dan batu terlihat berlalu-lalang. Mereka mengangkut pasir dan batu dari sejumlah lokasi galian C di Cimalaka yang berada di sisi selatan gunung Tampomas.

Dalam perjalanan pulang, kami hanya berharap, penambangan pasir di kaki gunung Tampomas tidak sampai mengganggu cadangan air di sana.

Perjalanan ke curug Ciputrawangi merupakan edisi Jelajah Geotrek ke-30. Bagi yang berminat bergabung dalam perjalanan Jelajah Geotrek selanjutnya, silakan kunjungi situs matabumi.org atau fanpage Matabumi di Facebook.***
Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/03/13/curug-ciputrawangi-air-terjun-sunyi-di-kaki-gunung-tampomas-396035



   

Berita Lainnya

Pencinta Burung Siap-siap Ramaikan Taman Sri Baduga, Ada Festival Burung
Pesona Situ Cisamping Pangandaran dan Cerita di Balik Namanya
200 Orang Bersihkan Tahura
Festival Keraton Nusantara XI Genjot Kunjungan Wisatawan ke Cirebon
Bangga! Indonesia Raih 2 Penghargaan di Kompetisi Video Pariwisata Dunia UNWTO


Kembali Ke Index Berita