Berita
Ada Dua Cagar Budaya Baru di Bekasi


Print


CIKARANG, (PR).- Pemerintah Kabupaten Bekasi berencana mengajukan dua situs baru menjadi cagar budaya tingkat nasional. Keduanya bakal melengkapi enam cagar budaya lain yang lebih dulu diakui melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kedua situs baru tersebut yakni situs purbakala Buni Desa Muara Bakti dan Masjid Jami Al Mujahidin Cibarusah. Berdasarkan hasil kajian arkeolog, kedua peninggalan sejarah itu layak menjadi cagar budaya nasional.

"Kami sedang mengajukan sesuai dengan hasil kajian yang dilakukan tahun lalu. Jika memenuhi unsur, nantinya cagar budaya Kabupaten Bekasi akan bertambah," kata Suwartika, Kamis 12 Oktober 2017. Suwartika adalah Kepala Bidang Budaya pada Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Bekasi. Ia ditemui di ruang kerjanya.

Hasil kajian tersebut akan diajukan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang Wilayah Kerja Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung pada Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud.
6 bangunan bersejarah

Sebelumnya, melalui balai tersebut menetapkan enam peninggalan sejarah di Kabupaten Bekasi sebagai cagar budaya. Keenam cagar budaya tersebut yakni Pendopo Cikarang (kantor bekas kewedanaan Cikarang Utara), rumah bersejarah yang kini menjadi asrama Polsek Cikarang 1, dan rumah bersejarah yang kini menjadi asrama Polsek Cikarang 2.

Kemudian Saung Ranggon di Cikedokan Cikarang Barat, Gedung Juang 45 di Tambun Selatan, serta bangunan bersejarah yang kini digunakan Dinas Pemadam Kebakaran di Tambun Selatan. Keenam cagar budaya tersebut berjenis bangunan.

Penetapan cagar budaya memberi garansi tersendiri atas keaslian peninggalan bersejarah tersebut. Dikatakan Suwartika, peninggalan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tidak boleh diubah apalagi dihancurkan.

Terhadap cagar budaya yang dimaksud, setiap orang dilarang melakukan pelestarian tanpa didasarkan pada hasil studi kelayakan yang dapat dipertanggungjawabkan secara teknis, akademis, dan administratif.

"Bahkan untuk pemugaran atau perbaikan atau bahkan pemeliharaan harus didampingi para ahli. Tujuannya jelas agar keaslian situs tersebut dapat terjaga. Cagar budaya pun dilarang dipindahkan dan atau dipisahkan dari titik awalnya tanpa izin,” kata Suwartika.
Dilindungi negara

Pelestarian cagar budaya diatur dalam Undang-undang 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Setiap orang yang merusak cagar budaya diancam pidana penjaran maksimal 15 tahun dan/atau denda Rp 5 miliar.

Regulasi tentang cagar budaya ini pun terbilang ketat, bahkan setiap orang yang tidak melaporkan adanya cagar budaya dapat dinyatakan melanggar undang-undang. Di sisi lain, setiap orang yang melakukan pencarian cagar budaya tanpa izin pun terancam pidana.***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/10/12/ada-dua-cagar-budaya-baru-di-bekasi-411445



   

Berita Lainnya

Tahu Gejrot Goyang Lidah Warga Brussel Belgia
Indro Warkop Terpilih Lifetime Achievement Festival Film Bandung 2017
Wayang Ajen: Kolaborasi Memikat Pertunjukan Wayang Kayu dengan Ragam Seni-Multimedia dan Teknologi dalam Promosi Pesona Indonesia melalui seni pertunjukan.
Mandalasari Kembangkan Desa Wisata
Aher Raih Penghargaan Pejabat Peduli Museum


Kembali Ke Index Berita