Berita
Mengunjungi Cagar Budaya yang Dipercaya Menjadi Tempat Pemandian Prabu Siliwangi


Print


Prabu Siliwangi diceritakan sering melakukan pembersihan diri pada sebuah kolam yang terletak di hulu Sungai Citarum, Gunung Wayang, Jawa Barat.

Prabu Siliwangi adalah tokoh legenda Jawa Barat yang dipercaya mengawali pemerintahan zaman Pakuan Pajajaran Pasundan dengan memerintah Kerajaan Sunda Galuh selama 39 tahun.

Tribun Jabar, pada Sabtu lalu, berkesempatan mengunjungi kolam berstatus cagar budaya yang berada tidak jauh dari Situ Cisanti itu.

Hawa dingin langsung terasa di kulit. Jernihnya air di sana, membuat dasar kolam berukuran kurang lebih 20 X 20 meter itu terlihat jelas.

Di sekitar lokasi kolam, banyak sekali pepohonan sehingga membuat pencahayaan menjadi minim. Tepat di samping kolam, terdapat sebuah makam buatan yang tidak ada isinya yang dikatakan oleh juru pelihara, Atep (39), sebagai tempat untuk mencuci muka.

"Kolam itu memang diceritakan oleh pendahulu (ayah) saya sebagai kolam pemandian Eyang Prabu Siliwangi. Kalau pengunjung mau mandi di situ, ada tata caranya, saya pandu. Pengunjung harus melepas alas kaki, berendam sebanyak tiga kali, dan berkumur dengan air itu sebanyak tiga kali," ujarnya kepada Tribun Jabar.

Atep, generasi ketujuh juru pelihara situs cagar budaya yang sudah bertugas selama tiga tahun itu, mengatakan bahwa pembersihan atau mandi di kolam bukan dilakukan untuk meminta sesuatu hal.

Karena, menurut Atep, meminta sesuatu hal tetap harus dilakukan kepada Allah SWT.

"Jadi jangan salah kaprah. Mandi di kolam itu hanya untuk membersihkan hati dan menjernihkan pikiran saja. Awalnya punya niat jelek pada sesama, nantinya, niat jeleknya itu Insya Allah hilang, kalau mandi di kolam itu," ujarnya.

Atep juga mengatakan di kolam itu terdapat jejak kaki yang dipercaya sebagai jejak kaki kiri milik Prabu Siliwangi.

Namun, saat Tribun Jabar berkunjung ke sana, lokasi kolam sedang licin akibat cuaca di lokasi sedang hujan deras, sehingga Atep melarang untuk melihat lebih dekat agar tidak terpeleset dan jatuh.

Kolam terdiri dua bagian, untuk laki-laki dan perempuan. Dibatasi oleh sebuah pohon berdiameter sekira setengah meter yang melintang di kolam itu.

Menurut Atep, pohon besar itu tumbang pada tahun 1974 dan jatuh tepat di tengah kolam sehingga digunakan sebagai pembatas.

Atep pun tak memungkiri ada sejumlah pejabat daerah yang datang ke kolam itu. Namun, ia enggan menyebutkan namanya.

"Mereka (pejabat itu) cuma wudu saja di kolam itu. Bukan meminta sesuatu hal. Wudu itu pun dilakukan agar hati bersih dan pikiran jernih. Kolam ini pun tidak pernah tutup dan tidak pernah dilakukan ritual apa-apa," ujarnya.
Sumber : http://jabar.tribunnews.com/2017/11/05/mengunjungi-cagar-budaya-yang-dipercaya-menjadi-tempat-pemandian-prabu-siliwangi



   

Berita Lainnya

Teater Senapati Terpilih Sebagai Grup Terbaik Festival Drama Musikal Remaja
Seta Gugur
Pameran Mobil Kuno 2017
Automotive Photo Contest
Launching Tour de Linggarjati 2017


Kembali Ke Index Berita