Situs Kabuyutan Nagaratengah

04-08-2015 Kabupaten Tasikmalaya 21593 baca

Print


Nama Nagaratengah sudah ada sejak jaman Kerajaan Galuh Hindu, ketika kerajaan berbentuk federasi. Mahaprabu Galuh membagi kerajaan yang salah satu diantaranya adalah Kerajaan Galuh Nagaratengah yang diperintah oleh Prabu Agung Danumaya dengan jumlah rakyat mencapai ± 1000 orang. Kemudian dilanjutkan oleh Prabu Wangsa Dedaha, lalu oleh Prabu Agung Ranggakusumah. 
Ketika Cipta Sanghyang Permana naik tahta sebagai Mahaprabu Galuh, ibukota kerajaan (dayeuh) pindah ke Nagaratengah. Letak ibukota antara sungai Cihapitan dan Cibodas (Sayung Desa Karanglayung) Kemudian penggantinya adalah Mahaprabu Cipta Permana (sebelumnya berdiam di Cimaragas) yang sudah memeluk agama Islam dan membagi kerajaan menjadi 6 Kerajaan kecil (Kadaleman). Selanjutnya,  Kadaleman Nagaratengah dibangun pada 1583 oleh Pangeran Aria Panji Subrata. jarak lk. 25 km  dari pusat kota Tasikmalaya, luas 3 Ha,  berbagai situs yang ada :   
 
1. Desa Nagaratengah
a.  Dusun Mekarsari
Di dusun ini terdapat  BCB yang merupakan milik Idi Sukandi berupa pedang dan  rangkanya, serta gelang kuningan dengan ukuran sebagai berikut:
- Pedang : Panjang   : 59 cm
Panjang tangkai : 11 cm
Bahan : logam besi 
Pada tangkai pedang terdapat simbol berbentuk elips dari bahan  kuningan berukuran diameter 
 
 
panjang 3 cm dan diamter pendek 2 cm, di permukaaannya terdapat hiasan berupa garis-garis 
 
-   Gelang: Diameter logam  : 1,3 cm 
Diameter gelang    :  8,5 cm
Warna :  kuning kemerahan 
Bahan  :  logam perunggu
 
 
b. Dusun Ciwarulang 
Di dusun ini terdapat makam keramat yang biasa disebut sebagai Makam Dayang Kancana, akan tetapi kondisi makam sudah mengalami perubahan karena adanya penembokan dan sudah tidak dapat dikenali bentuk aslinya. 
 
c. Dusun Tanjungsari (Nyengkod)
 
Di dusun ini terdapat suatu punden berundak yang terdiri dari tiga teras. Di teras atas terdapat dua makam Islam yang dikelilingi tembok persegi empat. Di sudut timur laut, dari bangunan tersebut terdapat satu menhir dari batuan andesit, dan di bagian kakinya menempel batu altar berbentuk segitiga. Adapun ukuran menhir tersebut adalah tinggi 57 cm, lebar 28 cm dan tebal batu 16 cm.  Situs ini juga dikenal sebagai makam Garatengah. 
                
Di dalam bangunan tembok terdapat jirat makam Makam Kyai Abdul Rohaniah yang telah ditata ulang, panjang 270 cm, lebar 190 cm. Disebelah timurnya terdapat jirat makam istri beliau (Dewi Pertala) juga sudah ditata ulang 
 
berukuran panjang 230 cm, lebar 160  cm. Vegetasi yang tumbuh di punden ini adalah pohon kiara, rotan, aren, beringin, petai, singkong dan padi. 
Sekitar 50 m kearah sebelah timur terdapat komplek makam yang sudah mengalami penataan ulang. Di lingkungan makam ini terdapat jirat makam Makam 
 
Pangeran Aria Panji Kusumah berukuran panjang 350 cm, lebar 190 cm, dan jirat makam istrinya yang bernama Ratna Ayu Gading Pangrungu berukuran panjang 280 cm, lebar 170 cm. Kedua jirat tersebut berada pada suatu struktur persegi empat yang berukuran panjang 560 cm, lebar 630 cm. Di area yang sama sekitar 100 m kearah selatan terdapat aretfak nisan perkembangan dari bentuk gada berukuran tinggi 56 cm, lebar 23, tebal 9 cm. Komplek makam dengan luas 140 m2 ini berada di sebelah barat meander sungai Cihapitan yang mengalir dari barat ke-timur. Tanaman yang tumbuh di lingkuan makam ini di antaranya bungur, pukih/nam-nam, aren, kodoya, nyatuh.
 
Sedangkan di Blok Garatengah masih terdapat beberapa lokasi yang diduga merupakan situs di antaranya 
a. Dipuncak Gunung Putri, informasi dari masyarakat terdapat hamparan batu 
       berbentuk persegi empat dan dikenal sebagai makam seorang Putri.
b. Di puncak Gunung Ujung, diinformaskani terdapat makam 
c. Di Gunung Gajah, oleh masyarakat informasikan dipakai sebagai tempat pemujaan.
d. Nanggerang, diinformasikan oleh masyarakat terdapat makam Jaksa Anggapraja yang oleh masyarakat populer disebut sebagai Mbah Jaksa.
e. Sumbang Situ, diinformasikan di puncak nusa Sumbang Situ terdapat makam Sutadiwangsa.
f. Di areal perkebunan karet PT. Wiria Cakra tepatnya di lereng Gunung Celeng diinformsikan terdapat Batu Celeng dan Batu Lumpang yang oleh masyarakat dikenal sebagai kawah. 
 
1. Desa Ciampanan 
 
Di dusun  Sukabakti ini tepatnya di Blok Barunay teridentifikasi adanya
tiga (3) tinggalan arkeologi, yaitu 
 
1) di sebelah timur muara sungai Ciriri terdapat makam Islam yang sudah ditata ulang (dibentuk kembali) dan dikenal sebagai makam Nyi Dalem Campaka, jirat makam berupa hamparan batu berbentuk persegi empat dengan ukuran panjang 760 cm, lebar 500 cm.
 
2) Sekitar 100 m ke-arah timur dari makam ini terdapat makam Pangerang Aria Panji Subrata, seorang raja Islam pertama di Galuh Nagaratengah. Jirat makam berupa hamparan batu dan sebagian sudah longsor, dan sekitar 80 m
dari makam ini kearah timur terdapat sumber air (sumur) yang dinamai Cikabuyutan. 
 
3) Sekitar 100 meter dari sungai ciriri ke-arah utara terdapat situs Batu Goong. Di situs ini terdapat batu berlobang atau batu Goong yang berukuran panjang 6,75 meter, dan tinggi 2,40 meter. Di permukaan batu ini terdapat dua lobang  yang bervariasi ukurannya diameternya. Masing-masing berdiameter 61 cm dengan kedalaman lobang 51 cm, dan  lobang ke dua berdiameter 36 cm dan kedalaman 22 cm. Lebih kurang 10 meter arah selatan dari batu Goong ini ditemukan gelang kaki yang terbuat dari perunggu, di dusun yang sama tepatnya di Blok Cilutung, 
Dusun Sukabakti terdapat fitur makam makam Raden Adipati Aryadikusumah bersama Istri dan putranya  Sukmabuwana Mangkunagara. Beliau adalah raja Islam ke-3 di Nagaratengah atau raja ke-6 dari kerajaan Hindu Nagaratengah. Jirat berupa hamparan bau andesit, berukuran panjang 610 cm, lebar 650 cm. Di lingkungan makam ini banyak tumbuh pohon beringin dan pinang. Sedangkan di Blok Baranuya terdapat makam Pangeran Arya Panji Subrata (belum didokumentasi)
2. Desa Cineam
 
Di Dusun Mekarmulya, Desa Cinean terdapat makam Dalem Citatah (Jagabaya Hutan Wanalapa), informasi yang diperoleh dari Djotong (alm), melalui Agus Mulyana (Mas Agus), bahwa Dalem Citatah adalah petugas menjaga keamanan hutan larangan yang pada masa lampau dimanfaatkan sebagai tempat penggembalaan kijang. Jirat makam berbentuk persegi dengan ukuran panjang 430 cm dan lebar 230 cm, serta terletak pada kordinat 07o23’43,6” Lintang Selatan dan 108o21’43,5” Bujur Timur dan ketinggian 291 di atas permukaan laut. Vegetasi yang tumbuh di lokasi ini berupa beringin, kiteja, dan  enau di samping perdu.                                                
 
3. Desa Cikondang
 
Di Dusun Mekarjaya, Desa Cikondang teridentifikasi adanya dua situs tinggalan tradisi megalitik yang pertama disebut sebagai Situs Prebu Sukajaya, berupa dua kelompok hamparan batu dan masing-masing hamparan batu terdapat menhir di atasnya. Hamparan batu sebelah selatan berukuran (290 cm x 240 cm), terdapat 2 menhir yang 
diberi nama Tuan Dago Jawa dan masing-masing berukuran tinggi 81 cm, diameter 27 cm posisi roboh, dan satu menhir lainnya dalam keadaan patah berukuran tinggi 58 cm, dan diamter 20 cm. Sedangkan hamparan batu sebelah utara (140 cm x 100 cm), juga terdapat dua menhir di atasnya, oleh masyarakat dikenal sebagai menhir Prabu Siliwangi. Menhir pertama pada posisi sebelah selatan berukuran tinggi 34 cm, diameter  19 cm, dan menhir kedua berada 47 cm disebelah utaranya berukuran tinggi 40 cm dan diamter 17 cm. Situs ini terletak pada kordinat 07o25’29,2” Lintang Selatan,  108o20’37,9”Bujur Timur dan ketinggian 397 m di atas permukaan laut. Di atas situs ini tumbuh pohon bungur dan enau 
 
Situs kedua adalah Situs Dalem Sareupeun yang oleh masyarakat dikenal sebagai Paniisan Dalem Saripin. Situs ini terletak di Dusun Mekarjaya tepatnya  blok Candi. Di situs ini terdapat 6 batu berjajar yang mengarah dari timur ke barat dan sebuah  batu  berukuran panjang 66 cm lebar 15 cm tinggi 24 cm, melintang 21 cm disebelah utara batu berbentuk prisma segitiga. Dari arah timur batu pertama berukuran panjang 62 cm lebar 18 cm tinggi 13 cm. Ke arah barat dari batu pertama dengan jarak 36 cm terdapat batu kedua panjang 80 cm lebar 17 cm tinggi 18 cm, selanjutnya dengan jarak 37 cm terdapat batu ke-tiga  berbentuk prisma segitiga dengan ukuran  panjang 55 cm lebar 33 cm tinggi 23 cm. Batu ke-empat berjarak 13 cm ke arah barat dari batu prisma  berukuran panjang 75 cm lebar 14 cm tinggi 13 cm. 47 cm kearah barat dari batu keempat terdapat batu kelima berukuran panjang 68 cm lebar 18 cm tinggi 7 cm. dan 42 cm Ke arah barat 
dari batu kelima terdapat batu keenam dengan ukuran panjang 46 cm lebar 30 cm tinggi 23 cm..                       
                      
Selanjutnya di Dusun Sukahurip, tepatnya di Kampung Ciodeng di rumah Bapak Saleh (81 tahun) tersimpan satu (1) lumpang batu berukuran tinggi 20 cm, diameter permukaaan 24 cm kedalaman lumpang 15 cm, diameter dasar 16 cm, tebal lumpang  3 cm. Di Kampung yang sama tepatnya di ladang penduduk ditemukan fragmen alu berbahan batuan andesit, satu serpih dan satu buah fragmen yang menyerupai download drama korea kapak terbuat dari bahan batuan rijang.  Di desa yang sama tepatnya Dusun Cigalagah diinformasikan adanya  makam Arya Suntya Gagah.
 
4. Desa Rajadatu
Di Dusun Pusakamukti, Desa Rajadatu diidentifikasi adanya makam Dalem Sumur (Raden Wijayakusumah) dan istrinya bernama Ma Amanah. Jirat makam berupa hamparan batu berbentuk persegi dengan ukuran panjang 440 cm, lebar 280 cm., sedangkan jirat Ma Amanah berukuran panjang 160 cm lebar 90 cm. Jarak antara kedua makam  220 cm. Makam ini terletak pada koordinar 07o22’20,4” Lintang Selatan dan 108o21’54,7” Bujur Timur dengan ketinggian 273 m di atas permukaan laut. 
 
Selanjutnya di desa yang sama tepatnya di Dusun Paganjuran terdapat jirat makam berukuran panjang 630 cm lebar 170 cm bembujur arah selatan-utara dan dikenal sebagai makam Panglima Dalem Paganjuran. Di atas jirat ini berdiri 3 menhir masing-masing berukuran: menhir pertama pada posisi sebelah selatan berukuran tinggi 48 cm, diameter 15 cm., dan 57 cm ke arah timur terdapat menhir kedua dengan ukuran tinggi 65 cm, diameter 25 cm. 
 
Selanjutnya dalam jirat yang sama sekitar 450 cm ke-arah utara terdapat menhir ketiga tinggi 45 cm diameter 15 cm. Di sisi sebelah selatan ditemukan sebuah fragmen batu lumpang, dan ditengah-tengah sisi sebelah timur jirat juga ditemukan fragmen batu dengan dua buah lobang lumpang. Situs ini terletak pada posisi kordinat 07o22’.49,6” Lintang Selatanm 108o.22’.39,0” Bujur Timur  dengan ketinggian 262 m di atas permukaan laut.
 
5. Desa Madiasari
Di Kampung Cikanyerem, Desa Madisari terdapat Situs Pasir Abas. Pada areal situs ini terdapat petilasan Prabu Siliwangi dan Kyai Abdul Anggamalang serta batu angkat yang disebut Kyai Angkat Junjung, di samping itu juga terdapat makam Kyai Patra Karangtengah dan Satria Anom Pajajaran. Petilasan Prabu Siliwangi dan Kyai Abdul Anggamalang merupakan hamparan batu yang berukuran panjang 270cm,lbr 100m.
Di atas hamparan batu ini terdapat 2 menhir, menhir pertama sebelah utara beukuran tinggi 27 cm lebar 30 cm dan tebal 14 cm, sedangkan menhir kedua disebelah selatan tinggi 40 cm lebar 35 cm tebal 15 cm, jarak antara kedua menhir ini 65 cm. Di sebelah utara petilasan ini terdapat Batu Angkat yang terletak di atas hamparan batu berbentuk lingkaran dengan  diameter 170 cm dan sisi selatan hamparan batu ini terdapat batu altar.                                  foto Batu angkat
 
Sedangkan Batu angkat mempunyai ukuran panjang 55 cm lebar 27 cm tebal 15 cm. Di sebelah timur petilasan ini terdapat makam Kyai Patra Karangtengah dan disebelah baratnya terdapat makam Satria Anom Pajajaran dengan ciri tipe nisan bundar pipih yang mempunyai kemiripan dengan nisan makam di Ciomas Sumedang.
 
Selanjutnya di Desa yang sama tepatnya di Kampung Cidarma terdapat makam yang oleh masyarakat dikenal sebagai makam Kyai Abdul Anggamalang. Jirat makam berbentuk  persegi panjang dengan ukuran panjang 490 cm lebar 210 cm. Di sisi timur laut jirat ini terdapat 2 menhir berhimpitan dengan ukuran: menhir sebelah barat tinggi 27 cm lebar 19 cm tebal 9 cm, menhir sebelah timur tinggi 37 cm lebar 24 cm tebal 19. Situs sudah mengalami penataan ulang.
 
6. Desa Cijulang
Di Kampung Cirantai, Dusun Sindangsari, Desa Cijulang tepatnya di dinding sebelah timur sungai Cigoang dekat Leuwi Bunut terdapat arca Ganesa tipe Polynesia yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Batu Surabima, di desa yang sama diperoleh informasi adanya Goa Wulung di Kampung Warunglegok. Makam Kembang Gadung yang dikenal sebagai makam Kyai Kapi Ibrahim, dan batu lumpang dan makam Pancuran Mas yang terletak di dipuncak Ciwanasakit. 
 
7. Desa Sirnajaya (Kecamatan Karangjaya)
Di Dusun Awiluar, Desa Sirnajaya terdapat situs  Gunung Payung, dan di situs  ini ditemukan beberapa  tinggalan budaya di antaranya:
 
a. Batu Langkoban 
Batu Langkoban terletak pada koordinat 07o27’55” Lintang Selatan dan  108o23’40,1” Bujur Timur dengan ketinggian  674 meter di atas permukaan laut. Batu langkoban berukuran panjang 21 meter, tinggi 15 meter. Batu ini membentuk ceruk gua dengan luas sekitar 56 m2. Sekitar 130 cm dari ceruk gua terdapat lumpang batu yang terpahat pada sebuah batu besar berukuran . tinggi 120 cm batu lumping tersebut  terpahat pada batu yang berukuran dan diameter  55 cm.
                                                                                  
b. Batu Pangasahan
Batu Pangesahan  terdiri dari 17 garis, yang terpahat pada sebuah batu yang berukuran panjang 5 meter, dengan tinggi 1,40 meter. Garis terpanjang berukuran 35 cm dan garis terpendek berukuran 15 cm. Batu Pangesahan terletak pada koordinat S 07. 28.00,1, E 108.23.27,4, dengan ketinggian 736 meter diatas permukaan laut.
c. Tangga batu
Tangga batu pertama, berdiameter 30 cm,dan tinggi 20 cm. Tangga batu kedua, berdiameter 50 cm, tinggi 30 cm. Tangga ketiga sampai delapan terpahat pada sebuah batu besar berukuran tinggi 170 cm, lebar 160 cm. 
 
d. Ki Jagaberok
Ki Jagaberok terletak pada koordinat S 07.28.03,1 dan E 108.23.21,2 dengan ketinggian 699 meter di atas permukan laut. Ki Jagaberok bebentuk dolmen yang terletak di atas dua batu, Batu besar berukuran panjang 150 cm dan tinggi 90 cm. 
 
Lebih kurang 40 cm dari dolmen terdapat menhir dengan ukuran tinggi 35 cm dan lebar 16 cm.  Lebih kurang 250 meter dari Ki Jagaberok terdapat beberapa situs terletak pada satu area dengan luas lebih kurang 1500 m2. Area tersebut terletak pada koordinat S 07. 28.01,4, E 108 23 17,6 dengan ketinggian 744 di atas permukaan laut. Adapun situs-situs yang terdapat pada area tersebut diantaranya:  Lingga terletak di atas batu datar yang  berukuran tinggi  75 cm dengan diameter 25 cm, sedangkan batu datar berdiameter 80 cm dan tinggi 15 cm. Lebih kurang 15 meter dari Lingga terdapat makom Sang Hyang Gumulung Putih dan makom istrinya bernama Nyi Ratu Gumulung Putih. 
Pada kedua makam tersebut terdapat menhir.
 
Menhir pada makom Sang Hyang Gumulung Putih berukuran tinggi  26 m, lebar 14 cm dan tebal  11 cm, Sedangkan menhir Nyi Ratu Gumulung Putih beukuran tinggi 29 cm, lebar 14 cm, dan tebal 11 cm. Jarak kedua maom 165 cm. Lebih kurang 10 meter dari Makom Sang Hyang Gumulung Putih terdapat Batu Gelang  dengan ukuran panjang 280 cm, lebar 240 cm dan masyarakat menamakan situs lumbung. Lebih kurang 5 meter dari Batu Gelang terdapat makom Siti Munigar. Pada makam tersebut terdapat menhir dengan ukuran tinggi 20 cm, diameter 12 cm. Sedangkan panjang jirat makam260 cm dan lebar 180 cm. Sepintas batu pada makam terlihat seperti kubur batu.Lingkungan area situs terdapat pohon  dara wolong, kakaduan, hirung, kiara, jejambuan, kisegel, harupat.       
 
Kemudian lebih kurang 100 meter dari area situs di atas, terdapat situs sumur Cikahuripan. Pada situs ini terdapat 1 jolang yang berukuran panjang 60 cm, lebar 32 cm, kedalaman 15 cm. Selain itu disekelilingnya tersebar 18 buah dakon. Dakon yang terbesar berdiameter 20 cm dengan, kedalaman 17 cm. Sedangkan dakonn terkecil berdiameter 5 cm dengan kedalaman 8 cm. Jolang dan dakon terpahat pada sebuah paparan batu. Sumur Cikahuripan terletak pada koordinat S.07.28.00,2 E.108.23.17,7 dengan ketinggian 729 m diatas permukaan laut.
 
1. Desa Karanglayung
Tepatnya di Dusun Pananjung terdapat makam Mpu Dalem Pananjung. Menurut informasi alm.Djotong yang pernah disampaikan kepada Agus Mulyana (Mas Agus) bahwa Mpu Dalem Pananjung adalah seorang Pandai Domas yang didatangkan dari Galuh (Banjar Patroman) pada masa awal pemerintahan Pangeran Panji Kusumah Raja Galuh Nagaratengah yang ditugaskan membuat senjata pusaka untuk keperluan perkakas perang dan alat-alat pertanian serta pertukangan. Sesudah ada Mpu, Nagaratengah menjadi makmur (nanjung), para petani bertambah luas lahan garapannya. Karena telah berjasa membuat makmur rakyat dan negara, digelari Dalem Pananjung, situs tersebut terletak pada koordinat S.07.25.14,8 E.108.23.06,2 dan terletak pada ketingian 305 m diatas permukaan laut.
 
Sumber : Disparbud Kab. Tasikmalaya


Objek Wisata Lainnya