Selacau Parung Ponteng

21-03-2013 Kabupaten Tasikmalaya 9481 baca


Selacau merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak peninggalan sejarah, dilokasi tersebut terdapat situs dengan tinggalan berupa makam dan  gua-gua , diataranya terletak di gunung Pasanggrahan, diketinggian  1500m dpl , makam-makam yang terdapat di selacau berbentuk punden berundak  yang terdiri atas 3 bagian atau kelompok makam yang batas antara makam satu dengan makam lainnya berupa tangga, bentuk punden berundak tersebut menunjukan pada masa dahulu terutama pada masa kerajaan hindu dan kesultanan, strata sosial begitu kental, Raja atau sultan sebagai simbol utama kekuasaan umumnya disimbolkan dalam bentuk makam atau petilasan yang berada paling atas diantara makam-makam lainnya, sedangkan pada tahap kedua adalah simbol orang-orang yang dekat dengan raja atau sultan seperti para adipati atau para penasehat raja, pada tahap ke tiga disimbolkan sebagai makam prajurit,yang setia kepada raja pada zaman hindu atau sultan pada zaman Islam.

Batu-batu yang digunakan pada setiap  kelompok makam adalah batu-batu menhir atau susunan batu yang berdiri tegak,selain susunan batu yang berdiri tegak juga susunan batu seperti dolmen yang tersusun rapih membentuk altar. 
Situs yang dapat ditemukan di selacau Parungponteng meupakan situs yang berkelanjutan yang menjadi simbol tahapan setiap pase prasejarah sampai pase kesultanan.
Di sebelah barat kesultanan terdapat kampung Cikondang Desa Karya Bakti terdapat peninggalan dalam bentuk batu, dan didalam salah satu gua terdapat batu uncal yang konon dahulu menjadi penyembahan, di beberapa dinding gua terdapat tulisan-tulisan dengan huruf sunda kuno. Hal ini membuktikan adanya aktivitas masa lalu.
 
Riwayat singkat
Sebelum berdirinya kesultanan Selacau, di disekitar Selacau  telah ada kehidupan yang terorganisir dalam bentuk pemerintahan kebataraan yang menganut ajaran hindu. Dengan bantuan wali songo dari pemerintahan kebataraan yang mnenganut ajaran hindu itu dapat dirubah menjadi pemerintahan kesultanan yang menganut ajaran islam, dan pusat pemerintahannya dipindahkan ke Kalindung, dilokasi keraton terdapat situ/tempat pemandian raja dan ratu yang dinamakan situ hyang, sedangkan sumber pengairan bagi masyarakat dibawah wilayah kesultanan dari situ. 
Pada taun 1549M/969H, Wali Songo beserta Pandawa Lima dan anggota-anggota yang sudah sepenanggungan sepakat mendirikan sebuah organisasi yang dinamakan ”Sela Cau”. Pandawa Lima yang anggotanya 
 
mempunyani lima yaitu Raden Patra Kusumah, Raden Arsa Bangsa, Raden Sata Taruna, Raden Patih Dipa Manggala dan Pangeran Bungsu Damiyani.
Ketika pandawa lima dan anggotanya terseret atau terdesak oleh musuh mereka selalu berlindung di kerumunan pohon cau (pisang,sunda) sehingga musuh tidak melihat. dan akhirnya mereka diberi gelar ”Sunan Sela Cau”. Maka gelar sunan sela cau itu abadi, sampai sekarang banyak tokoh atau kiayi yang bertawasul kepada ”Sunan Sela Cau”. 
 
Sumber : Disparbud Kab. Tasikmalaya


Objek Wisata Lainnya