Situs Sukamanah (KH. Zaenal Mutofa)

21-03-2013 Kabupaten Tasikmalaya 9617 baca


Situs Sukamanah (KH. Zaenal Mutofa), terletak di Kp. Bageur  Desa Cimerah Kecamatan Singaparna, jarak sekitar 15 Km dari pusat kota Tasikmalaya, salah satu peninggalan sejarah Kemerdekaan, sebagai symbol perlawanan terhadap penjajahan Jepang.

 
Riwayat singkat
KH. Zaenal Mustofa merupakan Ulama Besar yang dianugrahi sebagai salah satu Pahalawan Nasional Indonesia, bahkan sebagai rasa hormat dan terimakasih masyarakat Tasikmalaya menjadikan nama beliau sebagai nama salah satu Jalan di pusat perkotaan Tasikmalaya.
KH. Zaenal Mustofa dilahirkan dari keluarga petani di Kampung Bageur Desa Cimerah Singaparna tahun 1901. Pada masa kecilnya beliau bernama Hudaeni. Sejak kecil beliau sudah mendapatkan ilmu agama dari guru-guru di desa tempat kelahirannya. Hudaeni kecil sangatlah cerdas dalam menerima ajaran sehingga Hudaeni meneruskan pendidikan agamanya di sejumlah Pondok Pesantren di Jawa Barat. Selama 17 tahun, Hudaeni merantau kesana kemari menimba berbagai ilmu agama termasuk di Pesantren Gunung Pari dan Cileunga. Dikalangan teman-temannya Hudaeni dikenal suka berdialog dan bertukar pikiran dalam membahas berbagai persoalan sehingga beliau direkomendasikan untuk berangkat ke Makkah dan Madinah, menuntut ilmu sambil menunaikan ibadah haji.
Sepulang dari tanah suci, Hudaeni bernama KH. Zaenal Mustofa dan mendirikan Pondok Pesantren di kampung halamannya yakni di Kampung 
 
Bageur. Pesantren ini didirikan pada tahun 1927 M dengan diberi nama Pondok Pesantren Sukamanah. Seiring 
berjalannya waktu, pesantren Sukamanah berkembang sangat pesat. Selain semakin bertambahnya jumlah santri, KH. Zaenal Mustofa juga melakukan pembaharuan dalam system pendidikannya antara lain pada tahun 1930-an pesantren ini memberikan Tafsir Al-Qur’an dalam Bahasa Sunda untuk memudahkan pemahaman akan kandungan makna Al-Qur’an. Disamping itu beliau juga mengajarkan Bahasa Belanda terhadapsantri-santrinya, sehingga pesantren ini menjadi pesantren terbesar dan sebagai pusat gerakan syiar dakwah Islam di seluruh priangan Timur. 
Di era 1940-an gejolak perlawanan terhadap pemerintah kolonial kembali berkobar di pelosok negeri ini, demikian pula di Tasikmalaya. Di usianya yang ke-40, KH. Zaenal Mustofa dengan gagah berani membangkitkan semangat kebangsaan, bersatu mengangkat harkat dan martabat bangsa ini dari penjajahan. Sikap ini timbul dari keyakinan yang teguh terhadap ajaran agama Islam, bahwa penjajahan oleh suatu bangsa terhadap bangsa lain adalah perbuatan mungkar, dan kemungkaran wajib dilawan dan diberantas, sehingga pada tanggal 17 Nopember 1941, KH Zaenal mustofa bersama kawan-kawannya termasuk KH Ruhiyat dari Pesantren Cipasung, H Siroj, Hambali dan Safi’i ditangkap oleh Belanda atas tuduhan “menghasut rakyat”.Sejak itu ribuan santri mengumandangkan taqbir dan berjihad untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Kemudian pada tanggal 10 Januari 1942 KH Zaenal Mustofa bersama sahabat-sahabatnya dibebaskan sebagai upaya meredakan perlawanan tersebut. Akan tetapi perlawanan KH. Zaenal Mustofa dan santri-santrinya tidak berhenti, beliau ditangkap dan dimasukan kembali ke penjara di Ciamis bulan  Februari 1942. Kemudian tentara Jepang membebaskan KH. Zaenal Mustofa pada bulan Maret 1942, dengan harapan dikemudian hari beliau mau bekerjasama dan membantu Jepang.
 
Namun kenyataannya lain, semangat patriotik dan nasionalisme yang di dasari keimanan yang teguh kepada Alloh SWT dalam melawan setiap kemungkaran, KH. Zaenal Mustofa kembali mengadakan perlawanan terhadap kaum penjajah. KH. Zaenal Mustofa juga secara terang-terangan menolak pelaksanaan “Seikeirei” (penghormatan terhadap kaisar Jepang) sebab perbuatan ini bertentangan dan akan menghancurkan tauhid umat Islam. Selain itu KH. Zaenal Mustofa menentang pelaksanaan “Romusha” karena dianggapnya merendahkan harkat dan martabat bangsa ini. Tanggal 25 Januari 1944, KH. Zaenal Mustofa merencanakan perlawanan terhadap penjajah Jepang, akan tetapi rencana tersebut tercium oleh Jepang dan Jepang pun mengirimkan utusannya ke Pesantren Sukamanah untuk melakukan perundingan dengan KH. Zaenal Mustofa. Akhir dari perundingan 
tersebut tidak menggoyahkan KH. Zaenal Mustofa untuk terus melakukan perlawanan terhadap pihak Jepang.
Akhir Bulan Februari, Jepang mengirimkan pasukannya dalam jumlah yang banyak dengan persenjataan yang lebih lengkap untuk menumpas KH. Zaenal Mustofa, maka pecahlah pertempuran sengit antara pasukan Jepang melawan KH. zaenal mustofa dan santri-santrinya yang hanya bersenjatakan golok dan bambu runcing. Pertempuran ini dekenal sebagai “Pertempuran Singaparna”. Berhubung kekuatan yang tidak seimbang, pertempuran ini dimenangkan oleh penjajah Jepang. Sebanyak 89 orang santri gugur dalam pertempuran ini dan KH. Zaenal Mustofa beserta 22 pengikutnya ditangkap dan dibawa ke Bandung. Kemudian pada tanggal 25 Oktober 1944  KH. Zaenal Mustofa dan pengikutnya dieksekusi mati di Jakarta. Berkat jasa-jasanya beliau dianugerahi gelar pahlawan Pergerakan Nasional melalui SK Presiden RI No. 064/TK/tahun 1972 tanggal 6 Nopember 1972.
 
Sumber : Disparbud Kab. Tasikmalaya


Objek Wisata Lainnya