Kampung Dukuh

23-08-2011 Kabupaten Garut 24536 baca

Print


Berada pada ketinggian ± 390 m di atas permukaan laut dengan luas ± 5 hektar.
Dalam kisah tradisi yang dipercayai masyarakat setempat bahwa yang berjasa sebagai pendiri Kampung Dukuh adalah Syekh Abdul Jalil.  
Menurut cerita nama dukuh diambil dari bahasa Sunda yang berarti tukuh (kukuh, patuh, teguh), dalam mempertahankan apa yang yang menjadi miliknya, atau taat dan sangat patuh menjalankan tradisi warisan nenek moyangnya. Menurut penuturan (2006) Lukmanul Hakim, Juru Kunci (Kuncen) Kampung Dukuh istilah dukuh berasal dari padukuhan atau dukuh = calik = duduk. Jadi padukuhan sama dengan pacalikan atau tempat bermukim.
Kampung Dukuh merupakan kesatuan pemukiman yang mengelompok, terdiri atas beberapa puluh rumah yang berjajar pada kemiringan tanah yang bertingkat. Pada tiap tingkatan terdapat sederetan rumah yang membujur dari arah barat ke timur. Letak antar rumah hampir berdempetan, sehingga jalan kampung terletak di sela-sela rumah penduduk berupa jalan setapak. Kampung Dukuh terdiri atas dua daerah pemukiman yaitu Dukuh Luar (Dukuh Landeuh = bawah) dan Dukuh Dalam (Dukuh Tonggoh = atas). Selain Dukuh Luar dan Dukuh Dalam, terdapat wilayah lain yang bernama Tanah Karomah (tanah keramat). Di dalam wilayah Tanah Karomah terdapat Makam Karomah (makam keramat). Di antara ketiga wilayah ini dibatasi oleh pagar tanaman.
Dukuh Dalam terdiri atas 42 rumah, dengan bentuk, arah membujur dan bahan bangunan yang sama. Jumlah ini tetap, karena tidak ada lagi tanah kosong yang bisa dijadikan tempat berdirinya sebuah rumah. Terdapat peraturan-peraturan yang mengikat penduduknya berupa peraturan tidak tertulis atau bersifat tabu, misalnya tidak boleh menjulurkan kaki ke arah makam keramat yang ada di sebelah utara kampung, tidak boleh makan sambil berdiri, tidak boleh menggunakan barang-barang elektronik dan tidak boleh membuat rumah lebih bagus dari pada tetangganya.
Dukuh luar merupakan bagian dari kampung yang berada di luar batas taneuh karomah. Segala peraturan tidak berlaku dengan ketat. Bahkan dalam perkembangan sekarang sudah banyak dijumpai bangunan-bangunan yang memakai bahan-bahan yang di Dukuh Dalam tabu untuk dipakai, misalnya genteng, kaca, papan. Walaupun demikian arah rumah-rumah masih tetap dari timur ke barat dan pintu rumah tidak menghadap ke makam keramat.
Untuk sarana peribadatan terdapat dua mesjid yaitu satu untuk laki-laki dan satu khusus untuk wanita. Untuk mandi dan mencuci, masyarakat dapat menggunakan jamban umum yang tersebar di sekeliling kampung. Demikian pula sawah, ladang, kandang ternak terletak terletak cukup jauh dari rumah-rumah penduduk.  
Makam Keramat merupakan komplek makam yang terdiri dari makam Eyang Wali (Syekh Abdul Jalil), makam Hasan Husein, makam-makam kuncen, dan warga Kampung Dukuh (pemakaman umum). Ada beberapa larangan tidak boleh berziarah pada hari Sabtu, pegawai negeri dilarang ziarah, tidak boleh memakai perhiasan, harus berwudhu/bersuci dan bagi wanita yang sedang datang bulan dilarang ikut berziarah, ziarah dipimpin oleh kuncen.
Masyarakatnya homogen dan hidup terpencil dari keramaian kota dan perkampungan lain. Menurut tradisi yang hidup sampai sekarang, masyarakat adat Kampung Dukuh sangat mematuhi kasauran karuhun (nasehat leluhur). Nasehat ini menganjurkan hidup sederhana, sopan santun, tidak berlebihan dan tidak mengejar kesenangan duniawi, serta tetap memegang prinsip kebersamaan. Selain itu, ada adat tabu (larangan) yang tetap dipegang sehingga pola kampung dan kebiasaan-kebiasaan sehari-hari tetap terjaga. Kemudian peranan kuncen sebagai pemimpin non formal dianggap sebagai pelindung adat istiadat yang kewibawaannya sangat berpengaruh.
Bangunan rumah di Kampung Dukuh rata-rata terorganisir atas empat bagian, yaitu: ruang muka (tepas) yang menyatu dengan ruang tengah (tengah imah); kamar tidur (enggon); dapur (pawon); dan gudang (goah). Secara umum bagian bangunan terdiri dari:  Tatapakan, yaitu bagian paling bawah dari rumah terbuat dari batu alam utuh. Berfungsi untuk melindungi tiang dari rayap atau air tanah yang menyebabkan tiang cepat lapuk; Tihang atau tiang terbuat dari kayu atau bambu yang berfungsi sebagai kerangka rumah;  Lantai rumah berupa palupuh yang terbuat dari lempengan bambu; Bilik atau dinding rumah terbuat dari bambu apus atau bambu tali dengan menganyam belahan-belahan bamu yang telah ditipiskan sampai memperoleh jalinan diagonal;  Panto atau pintu terbuat dari lempengan-lempengan kayu atau papan dari jenis kayu kihiang, sedangkan untuk kusen dan jendela digunakan kayu jati, bungbulang, cayur, campaka, atau albasiah;  Golodog merupakan tangga satu tingkat yang menghubungkan antara pekarangan dengan bagian dalam rumah. Golodog ini terbuat dari bambu atau kayu yang dipasang di bagian bawah pintu depan, sedangkan pintu belakang biasanya tidak menggunakan golodog; dan Suhunan atau atap adalah bagian teratas dari rumah terbuat dari ijuk, alang-alang, atau tepus. Sebagian besar menggunakan alang-alang dilapisi ijuk.

Lokasi:  Kampung Dukuh, Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut
Koordinat : 07 33' 80" S, 107 41' 762" E
Telepon:
Email:
Internet:
Arah:  Dari Ibukota Kabupaten Garut berjarak 100 km, 80 km pertama dapat ditempuh dengan kendaraan umum sampai ke Cikelet, dari sini kemudian berganti kendaraan umum menuju Cijambe. Dari pertigaan Cijambe menuju Kampung Dukuh dengan jarak 9 km dapat ditempuh dengan ojeg atau berjalan kaki. Kondisi jalan dari Cijambe menuju lokasi bisa dilalui hanya dengan mobil khusus, karena Kendaraan berhenti di Pamenekan, yaitu persimpangan menuju Kampung Dukuh. Dari Pamenekan ditempuh dengan jalan kaki menuju lokasi, melalui jalan setapak dengan jarak 500 m.
Fasilitas:
Jam Buka:
Tutup:
Tiket:    
Informasi Lebih Lanjut:

 



Objek Wisata Lainnya