Dramaswara

12-12-2011 Jawa Barat 23793 baca

Print


Seperti halnya Gending Karesmen, namun Iebih sederhana, terra serta isi ceritanya mengambil dari sempalan kejadian sehari-hari di masyarakat Tatar Sunda, seperti Dramaswara Kareta Api, Istri Tampikan, Berekat Katitih Mahal, Saha dsbnya.
Dicetuskan pertama kali oleh H. Koko Koswara atau Iebih dikenal dengan sebutan Mang Koko baik di Tatar Sunda ataupun di luar Tatar Sunda.
Waditra yang dipergunakan bisa hanya menggunakan Kacapi Sifter saja atau seperangkat waditra yang terdiri dari Kacapi Sitter, Suling atau Rebab, Goong, Kendang, bisa pula menggunakan perangkat waditra Iainnya yaitu Gamelan Degung, Gamelan Pelog atau Salendro. Laras yang dipergunakan adalah Pelog, Degung, Matraman, Sorog atau Madenda (Na atau Ti).
Dalam menciptakan Dramaswara, Mang Koko selalu membubuhi Guyonan, sehingga tidak menjenuhkan penontonnya. Liriknya menggelitik mengundang tertawa, kadang-kadang penonton terpengaruh pula untuk
marah dan jengkel ketika mendengarkan lirik yang dilantunkan oleh para pemain Dramaswara, lirik tersebut pun bahkan berisi sindiran-sindiran halus yang membuat kita Seuri Maur (senyum malu-malu), seperti Dramaswara "Berkat Katitih Mahal" yang menceritakan seorang Gadis yang mengirim Berekat(Kotak nasi `dari bambu yang berisi nasi beserta lauk pauknya) kepada tetangganya dan tetangganya pada waktu itu sedang banyak tamu dan pribumi tidak mempunyai apa-apa untuk disuguhkan, maka ketika ada yang datang mengirim Berekat mereka secara bersama-samaMurak(memakan)Berekat tersebut, pribumi mengatur makanan yang ada dalam Berekat namun ketika sedang Balakecrakan(makan bersama), Gadis yang mengirim Berkat tadi datang lagi, is meminta kembali Berekat tadi, katanya Berekat tersebut salah alamat. Seandainya Berekat tersebut telah dimakan, is meminta ganti rugi berupa uang, karena lbunya berpesan begitu, tentu saja ini membuat tetangga dan para tamu kebingungan.
 



Objek Wisata Lainnya