Kawasan Bangunan Kolonial

27-12-2011 Kota Depok 24811 baca

Print


Kawasan bangunan Kolonial merupakan tempat bersejarah di Kota Depok. Bangunan-bangunan masa Kolonial, misalnya Gereja Immanuel di Jalan Pemuda, Depok lama; Jembatan Panus yang melintas Sungai Ciliwung menghubungi Depok Lama dan Depok II; Pondok Cina di Jalan Margonda yang sekarang menjadi “ornamen’ Margo City, dan bekas rumah Tuan Tanah Cimanggis (km 34 jalan ke arah Bogor). Kawasan bangunan kolonial Depok mudah dicapai dari tengah kota ±15 – 30 menit dengan kendaraan umum dengan akses jalan yang cukup memadai dan kualitas yang cukup baik, lingkungan terjaga bersih dan asri. 
Pada masa kolonial ketika Depok mulai dihuni orang-orang Belanda, peninggalan yang bertahan hingga sekarang lebih banyak jenisnya, ada yang merupakan rumah hunian, gereja, sekolah, perkantoran, jembatan, dan lain-lain, jenis itulah yang penting dikaji lebih lanjut apabila diasosiasikan dengan upaya pengembangan pariwisata budaya. Beberapa rumah tinggal bergaya arsitektur Indis yang terletak di daerah Depok Lama. Menurut Steadmen (1979) bangunan bergaya arsitektur Indis (Indisch Stijl) mempunyai ciri: (1) bangunan sudah beradaptasi dengan iklim tropis sehingga mengikuti ciri arsitektur tradisional Jawa, (2) denah bangunan luas melebar tidak memanjang, (3) dilengkapi teras (beranda) di bagian depan rumah, dan (4) atap bangunan lebar sehingga sebagian menaungi bagian halaman tepian rumah.
Depok masa Kolonial, sejak tahun 1683 keadaan di Jawa Barat khususnya wilayah Banten dan Batavia sudah tenang. Tahun itu adalah tahun kejayaan VOC karena dengan jatuhnya Banten di bawah pengaruh VOC berakhir sudah masa perlawanan kerajaan-kerajaan besar di Asia Tenggara. Untuk menjamin ketenangan tersebut didirikan benteng Speelwijk di Banten (1685) untuk membungkam Banten dari percaturan dunia internasional. Sejak saat itu VOC mulai bertindak sebagai pengatur pemerintahan di Nusantara dan sejak saat itu pula orang Belanda mulai berani berusaha jauh di luar tembok Batavia. Di beberapa  tempat sudah mulai dibangun villa-villa (landhuis) antara lain Pondok Gede, Cimanggis, Tanjung Oost dan Depok. Banyak Cina Banten menjadi pemiliki tanah partikelir yang luas. Antara lain Tio Thiong Kho yang menjual sebagian tanahnya kepada Cornelis Chastelein.
Di jalan Pemuda cukup banyak bangunan kolonial dengan arsitektur Eropa, baik berupa rumah tinggal dan sarana pendidikan berupa sekolah, tertata dengan rapih dan asri, karena itu sangat menjajikan bila kawasan ini dikembangkan sebagai kawasan kuliner dan fashion (pertokoan baju). Wisata kuliner dengan nuansa Eropa dan Betawi yang buka pada jam-jam tertentu, sekitar pukul 16.00 – 22.00 WIB. Sedangkan bagi yang rumahnya dikembangkan sebagai kuliner yang menjajakan makanan (jajanan) tradisional dapat buka mulai pukul 10.00 -22.00 WIB. 
Sedangkan fashion, terutama pada rumah-rumah yang memiliki ornamen dan komponen yang relatif masih dipertahankan dengan kuat serta memiliki ruang cukup memadai dengan tanpa merubah yang berarti seperti tetap mempertahankan penggunaan cat bangunan, atap, tampak muka bangunan dan ornamen dan komponen bangunan. Walaupun demikian apabila ada perubahan harus tetap berkonsultasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat atau ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat. Hal ini seperti yang dikembangkan di kota Bandung, di Jalan Martadinata (jalan Riau) dan jalan Dago. 
Untuk menunjang pegembangan dan pemanfaatan kawasan jalan Pemuda dengan cukup banyak bangunan kolonial nan indah, perlu dilengkapi dengan area parkir yang memadai, dapat ditempatkan di suatu sudut atau bagian kawasan tersebut dengan tanpa mengindahkan kelancaran berlalu lintas.
 
Lokasi:  Tersebar di Kota Depok

Koordinat :
Telepon: -
Email: -
Internet: -
Arah:  ±15 – 30 menit dengan kendaraan umum
Fasilitas: -
Jam Buka: -
Tutup: -
Tiket: -
Informasi Lebih Lanjut: -
 

 



Objek Wisata Lainnya