Topeng Cisalak

20-04-2011 Kabupaten Bogor 25976 baca

Print


Topeng Cisalak adalah nama sebuah bentuk teater Rakyat yang terdapat di Kampung Cisalak, desa Curug, Kecamatan Cimanggis, Kabupaten Bogor. Letaknya di perbatasan antara Kabupaten Bogor (Jawa Barat) dengan Jakarta raya. Bahas yang dipergunakan sehari oleh masyarakat pada umumnya bahsa Melayu dialek Betawi. Nama “Topeng” diambil dari bentuk semula yaitu suatu bentuk teater yang para pemainnya mempergunakan topeng. Sekalipun pada masa kini mayoritas pemainnya sudah tidak lagi mempergunakan topeng, namun nama tradisi itu tetap melekat pada bentuk teater tersebut. Sedang nama “Cisalak” diambil dari nama tempat kesenian tersebut tumbuh, mekar,serta berkembang (dari bentuk asalnya). Sekalipun pada masa lampau bentuk teater tersebut tidak hanya di kampung Cisalak, akan tetapi juga di beberapa Desa atau Kecamatan di wilayah Kabupaten Bogor, namun Topeng Cisalak paling banyak penggemarnya, paling luas frekwensi pementasannya, paling bersinambung, serta paling kuat dalam manajemennya, menjadi landasan utama untuk bertahan hidup. Maka nama Cisalak sampai sekarang tetap abadi menjadi nama dari bentuk teater tersebut. di samping nama topeng yang menyertainya, bentuk teater itupun dinamai “Topeng Kinang”. Nama Kinang diambil dari nama seseorang yang menjadi cakal-bakal pengembangan Topeng Cisalak dari bentuk asalnya menjadi bentuk seperti yang ditampakan dewasa ini.
Kinang adalah nama seorang dramawan sekaligus seorang penari Topeng yang terkenal di daerah Bogor, Bekasi, Jakarta, dan sekitarnya pada permulaan abab XX. Ia semula menjadi dramawan dan penari dari teater Ubrug. Tahun 1914 Kinang menikah dengan seorang pemain rebab dari teater Ubrug bernama Dji’un. Kedua suami istri itu kemudian mendirikan rombongan teater yang memadukan unsur-unsur Topeng kecil, Ubrug, Banjet Karawang, Lenong bekasi, Lontang Priangan, Gending Cina dan Bali, hingga terwujud sebuah bentuk teater yang diberi nama “Topeng Kinang atau Topeng Cisalak”. Dengan bantuan mertuanya yaitu Pak Dora (ayah Dji’un) yang waktu itu menjadi kepala kampung di Cisalak, rombongan teaternya mengalami kemajuan yang pesat.
Pada tanggal 17 Desember tahun 1976, Enoch Atmadibrata sempat berwawancara dengan Dali (anak Dji’un + Kinang) yang kini memimpin rombongan Topeng Cisalak. Sementara Bu Kinang pada waktu itu telah berusia 82 tahun, namun ia masih bisa menari, bermain serta berpantun dengan baik. Dalam usianya yang renta, ia masih terus menggembleng muridnya: Rimah yang jadi primadona Topeng Cisalak pada waktu itu sekaligus sebagai mantunya (istri Dali). Cucunya dari anak yang ketiga bernama Kisam (tukang kendang) juga terus digemblengnya dalam tari Topeng Cisalak. Selama hidupnya Bu Kinang bersama suaminya, mengabdikan diri secara total pada seni Teater Topeng Cisalak. Dari perjuangaanya mengembangkan Topeng Cisalak, Bu Kinang pernah mendapatkan anugrah dari pihak Gouvernement atas keberhasilannya pergelaran di Pasar Gambi Batavia pada tahun 1920
Topeng Cisalak sebagaimana diutarakan di atas, merupakan perpaduan dari berbagai unsur kesenian baik dari Jawa Barat maupun dari luar Jawa Barat seperti: Bali, Betawi, Cirebon, dan Cina. Unsur-unsur seni tersebut berpadu menjadi sebuah bentuk teater rakyat yang total dalam arti berbagai unsur penting dari jenis jenis kesenian tampil di dalamnya.
Pengaruh gerak tari bali yang terdapat dalam gerak tari Topeng Cisalak, nampak pada tarian Ronggeng Topeng. Sebuah tarian pola yang dibawakan oleh seorang penari wanita dan telah menjadi tradisi untuk tampil pada bagian ketiga sebelum bagian lawakan dan lakon adalah “Ronggeng Topeng”. Sekalipun dinamakan Ronggeng Topeng, namun penari itu tidak mengunakan Topeng (berkedok). Kata “Topeng” untuk pelaku Ronggeng bukan menunjukan bahwa ia bertopeng, melainkan bahwa penari itu adalah penari Topeng Cisalak. Sedang kata “Ronggeng” untuk pelaku tari tersebut diambil dari nama untuk penari pada kesenian “Ronggeng” di Priangan.
Persamaan antara gerak tari Topeng Cisalak dengan gerak tari Bali, ialah pada pola gerak lengan yang diangkat (dikangkangkan) lebih tinggi serta lebih jauh dari tubuh. Demikian pula gerak bahu yang lebih kuat serta gerak leher kepala. Lenggak lenggoknya tubuh terutama pada bagian pinggul juga memiliki kemiripan. Gerak pinggul dalam tari Topeng Cisalak nampak lebih agresif, namun ekspresi dan dinamikanya memiliki warna yang hampir sama.
Sementara itu, dalam gendingnya, disamping terdapat warna gending Cina yang biasa didengan di Kelenteng, juga terdapat warna gending Bali. Kemiripan warna dengan musik Cina terletak pada dominannya suara-suara: kromong (ketuk), rebab, dan kecrek yang melengking tinggi serta bersuasana panas terutama pada gending tatalu. Bentuk rebab yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan rebab dari Priangan, dengan kawat dari baja serta perutnya yang terbuat dari tempurung kelapa yang sangat tipis, mengingatkan pada instrument Tehyan yang bersuara tenge (kecil melengking). Di samping itu, gaya menabuh antara gending Topeng Cisalak dengan Balipun terdapat kesejajaran. Kemiripan¬kemiripan unsur teknis dalam dua gaya etnis diperkirakan disebabkan oleh latar belakang sejarah.
Sebagaimana diketahui, Sultan Agung Mataram pada tahun 1628 dan 1629 menyerbu kubu Kompeni di Batavia. Dua kali penyerangan ke kubu Kompeni mengalami kegagalan. Di antara bala tentara Mataram terdapat tentara Bali yang ikut bergabung menyerbu Batavia. Akibat kegagalannya, banyak balatentara termasuk tentara Bali yang tidak kembali kemudian menetap di Cisalak. Dengan latar belakang budayanya, orang-orang Bali ikut mewarnai seni pertunjukan Jawa Barat khususnya Topeng Cisalak.
Perkiraan kedua, dikemukakan oleh I Gusti Gede Raka seorang ahli tari dan dosen ASTI Denpasar (STSI sekarang), pada suatu wawancara dengan Enoch Atmadibrata pada tanggal 22 Desember 1976, bahwa justru gerak-gerak tari Bali demikian juga karawitannya, mendapat pengaruh dari Jawa Barat. Landasan untuk itu ialah bahwa Kerajaan Hindu tertua dan terbesar di Nusantara berada di Jawa Barat, yaitu Tarumanagara. Para ahli agama dari kerajaan itulah yang dalam rangka menyebarkan ajaran-ajaran agamanya, juga membawa serta jenis keseniannya. Begitu pula pengaruh Cina yang terdapat dalam Topeng Cisalak, lekat dengan latar belakang sejarah dan sosial daerah Cisalak itu sendiri.
Menurut keterangan beberapa orang tua dan tokoh masyarakat Cisalak, konon pada jaman penjajahan Belanda, sekitar perkampungan Cisalak, baik pesawahan maupun daratan, milik seorang raja tanah Cina. Ia sangat menggemari bahkan ahli dalam kesenian daerah Jawa Barat, antara lain dalam karawitan. Sampai saat ini, berdekatan dengan Kampung Cisalak, terdapat sebuah kampung yang bernama Kampung Cina. Dahulu mungkin kampung tersebut dihuni oleh etnik Tionghoa yang hidup berdampingan dengan penduduk asli serta mengembangkan keseniannya bersama-sama.
Warna Topeng Kecil yang berasal dari Cirebon masih nampak pada bagian kedua sebelum Ronggeng Topeng muncul. Pada bagian tersebut disajikan tarian yang bawakan oleh dua orang penari. Keduanya mengenakan Topeng yang terbuat dari kayu. Satu orang penari mengenakan Topeng laki-laki yang berwarna merah seperti Topeng Minakjingga dari Topeng kecil Cirebon. Satu orang penari lagi mengenakan Topeng wanita yang berwarna putih seperti Topeng Panji yang juga berasal dari Topeng Kecil Cirebon yang menjadi Ibu Kandung dari semua bentuk Teater Topeng di Jawa-Barat, bahkan sampai Jawa Tengah (Pigeaud, Javaansche Volks Vertoningen, 1938). Dalam gerak-gerak yang berpola kendangpun masih tampak warna Topeng Kecil Cirebon, di samping ada pengembangan dari gerak keseharian yang distilir.
Pengaruh dari Lontang (bentuk asal Longser) tampak dalam gaya lawakannya, bukan saja dari gerak-gerak tubuhnya yang karikatural, akan tetapi juga tema dalam lawakan tersebut. demikian pula dalam perjalinan antara lawakan dengan lakon dalam penyajian sebuah cerita. Dalam perkembangan selanjutnya, pengaruh Ronggeng Priangan sangat kuat pada Topeng Cisalak. Tapi pengaruh itu kemudian luruh dan bersenyawa dalam jalur lakon sebagaimana yang ditampakan dalam lakon yang terkenal “Sarkawi” yang digarap oleh rombongan Topeng Cisalak pimpinan M. Dali tahun 1976.
Gerak-gerak tari Ronggeng terdapat kesamaan dengan gerak-gerak tari Ronggeng Priangan. Seperti contoh: gerakan tari Kumpay, atau Soloyong, Mincid biasa dan Mincid Adjrag (cepat) pada bagian Jajangkungan (gerak tari dengan mengangkat tumit bertepatan dengan bunyi gong, tumit itu dijatuhkan kembali ke tanah. Terdapat pula kemiripan pada gerak-gerak Wawayangan seperti: adeg-adeg, galeong, gedig, keupat panjang yang diringi lagu Sulanjana yang lembut. Pada gerakan penari laki-laki yang mendampingi penari wanita (Rongeng), terdapat pula persamaan seperti pada tari-tari: layang-layang, jago, domino (yang merupakan gerakan keseharian yang distilir), serta taian-tarian pola Cikeruhan dan sebagainya.
Waditra yang dipergunakan Topeng Cisalak masih tetap bertahan sebagaimana dikreasikan Bang Dji’un dan Mpok Kinang di tahun 1919. Terdiri dari: satu buah kendang besar, dua buah kendang kecil (kulanter), satu buah rebab, dua buah gong, tiga buah kemong, dan satu unit kecrek.
Di antara para pemain Topeng Cisalak, yang berpakaian khusus, hanyalah Ronggeng Topeng dan dua penari bertopeng. Di atas kepala Ronggeng Topeng “bertengger” sebuah songkok yang diberi nama “kembang Topeng” atau “Sayang”. Dikatakan kembang Topeng, karena bentuknya yang bulat, mekar ke atas dengan berbagai hiasan gemerlapan hampir menyerupai sekuntum bungan mawar yang tengan berkembang. Dikatakan “sayang” karena menyerupai sayang (rumah) burung pipit atau tempat ayam bertelur.
Dua orang penulis Belanda pada tahun 1920, yaitu Hardouin dan Ritter mengungkapkan bahwa pada sekitar tahun tersebut,kembang Topeng atau Sayang disebut “Cepio” yang berasal dari bahasa Portugis Chepio yang harfiahnya tutup kepala. Sementara pakaiannya: ke atas sepotong rok dengan lengan pendek, menutup mulai dari bagian leher sampai perut, sdangkan ke bawahnya berkain batik. Bagian atas baju (rok) dinamai Andong. Pada kedua belah bahu diselempangkan bersilangan ke dada, terdapat Toka-toka, terbuat dari sutra dengan warna-warna yang mencolok. Hardouin mengatakan “mungkin berasal dari bahasa Portugis yaitu Tocca yang berarti sorban atau ikat pinggang”. Pada pakaian tersebut terdapat sehelai kain dari katun atau sutra berwarna mas, menutup dada, dinamakan Pandepun. Sementara ikat pinggang yang dililitkan terbuat dari logam, dinamai Pending. Dari pusar ke bawah sampai pada batas lutut, berjumbai Ampreng, ialah sehelai kain bersulam mas. Pada kanan-kiri pinggang berjumbai pula Selendang sutra yang diberi nama Kewer yang cara memakainya diselipkan pada pending. Kipas yang terbuat dari kertas juga dipergunakan sebagai handprof , dipegang oleh tangan kanan dan dibuka manakal ia bernyanyi untuk menutupi mulutnya.
Penari bertopeng merah (laki-laki) dalam bentuknya yang terakhir sebagaimana diperlihatkan oleh rombongan yang dipimpin M. Dali, mempergunakan salontreng (piyama besar) watna hitam, serta celana yang juga berwarna hitam. Sebuah sarung diselendangka di bahu. Pakaian tersebut adalah pakaian khas petani (kala bersolek) di Jawa Barat tempo dulu.
Penari bertopeng putih (wanita) dengan rambut dirumbaikan ke bahu, memakai andong (rok dari leher ke bagian perut) dengan lengan panjang. Dari batas sikut rok itu berumbai putih. Pending melingkar di pinggangnya, sedangkan ampreng berumbai dari bagian pusar ke batas lutut. Bagian bawah mengenakan rok panjang atau kain yang dililitkan. Pelawak, pakaiannya keseharian, hanya di kepalanya memakai kopiyah kupluk, yaitu sebuah bentuk kopiyah khas pelawak, baik pada Topeng Cisalak, Banjet, longser, juga ubrug. Sedangkan para pemain lainnya disesuaikan dengan peran yang dipegangnya. Para nayaga mengenakan seragam (kemeja yang sama) dan kopiyah hitam di kepalanya.
Pertunjukan Topeng Cisalak semula di atas arena berbentuk lingkaran. Sekeliling arena para penonton bagian depan berjongkok, sedangkan bagian belakang berdiri. Seperempat lingkaran arena diisi oleh nayaga beserta waditranya, juga sekaligus tempat para pemain termasuk penari berkumpul dan berhias. Penerangan dipancarkan dari sebuah oncor, dan dibawah oncor tersebut
diletakan sebuah wadah dari kaleng atau semacam topi tempat menyimpan uang “pangalungan” (pemberian penonton) atau uang honor dari yang punya hajat. Pada perkembangan selanjutnya, seperti halnya teater rakyat lainnya di Jawa Barat, selalu menyesuaikan dengan kemajuan teknologi. Begitupun penerangan yang awalnya hanya menggunakan oncor, kemudian menggunakan petromak, bahkan tidak menutup kemungkinan menggunakan listrik baik diambil dari aliran listrik rumah maupun dari generator. Di samping itu, Topeng Cisalak juga sudah sering dipentaskan di atas panggung, bahkan di gedung pertunjukan.
Urutan pertunjukan, diawali dengan pembacaan mantera-mantera untuk keselamatan dan kelancaran, dilanjutkan dengan gending tatalu. Urutan gendingnya, pertama Arang-arangan, Sulanjana, kemudian Geyot. Bagian ini merupakan bagian pembukaan yang berfungsi untuk mengumpulkan penonton dengan hentakan-hentakan musik yang dinamis serta merangsang dan membangkitkan semangat.
Setelah tatalu, kemudian keluar dua penari bertopeng (merah dan putih) diiringi lagu: Glenderan, Lambangsari, dan Rewel. Bagian selanjutnya yaitu bagian ketiga, munculah Ronggeng Topeng dengan pakaian khasnya, gerakannya yang lincah, dinamis serta ekspresif. Gerakan yang paling menonjol adalah pinggulnya yang erotis. Lagu pengiringnya adalah Lipet Gandes, Geyot dan sebagainya. Sambil menari, Ronggeng Topeng pun mendendangkan pantun yang dilagukan. Di antara pantunnya yang berbau romantis dan humoristis ialah:
Duri bang merahnya terang
Cakep sekali dipandang orang 
Orang bujang banyak yang sayang 
Pegih kemanah tidak yang larang
Ilang buyung tempayan ada 
Tempat si nona cuci kaki
Ilang dulu sekarang ada
Tempat menghibur si jantung ati
Pukul tujuh pukul delapan 
Pukul sembilan kapal berjalan
Saya tunggu sampe kapan 
Aer mata jatoh di badan
Bagian keempat, ialah munculnya pelawak, menyertai Ronggeng Topeng. Di samping melawak iapun berpantun mengikuti Ronggeng Topeng di antaranya:
Ikan betok jangan dipanggang
Kalo dipanggang banyak minyaknya
Orang montok jangan dipandang
Kalo dipandang banyak tingkahnya
Kemudian disahut Ronggeng Topeng dengan pantun: 
Tempo dulu tikar berpucuk
Sekarang tikar bengkuang
Tempo dulu dibujuk-bujuk
 Sudah sekarang dibuang-buang
Setelah menari dan berpantun bersama yang penuh kejenakaan serta romantis, dilanjutkan pada bagian ke lima, yaitu bagian yang pokok. Pada bagian ini disajikan satu atau dua buah lakon, bergantung pada waktu yang tersedia serta permintaan yang punya hajat. Dalam pementasan semalam suntuk, Topeng Cisalak biasanya menyajikan beberapa lakon yang digelar secara berurutan mulai jam 20.00 sampai dengan 04.30. Dalam menampilkan lakon yang sifatnya improvisatoris, juga disertai dengan lawakan tarian dan nyanyian. Lawakan sangat dominan dalam seluruh jalur lakon. Kadang-kadang kalau pelawaknya disenangi penontonya, maka porsi lawakan bisa berjam jam, namun tetap tidak memenggal jalan cerita. Itulah keistimewaan Topeng Cisalak.
Menjelang akhir pertunjukan antara jam 03.00 sampai dengan jam 04.30, biasanya disajikan lakon “Si Jantuk”. Lakon ini disajikan dalam bentuk dialog berpantun bersahutan antar para pemainnya. Pantun tersebut telah terpola yang merupakan hasil karya sastra lisan yang anonim. Keistimewaan lain dari adegan ngajantuk ini adalah bahwa pemeran Si Jantuk mempergunakanTopeng yang terbuat dari kayu. Kedok itu berbentuk wajah Semar, tidak berdagu, dan kata Topeng yang dibubuhkan dalam Topeng Cisalak, menurut para ahli diambil dari topeng Jantuk sebagai salah satu pengaruh Topeng Cirebon. Adapun makna dan tema ceritera Si Jantuk, hampir sama dengan teater-teater rakyat lainnya di Jawa Barat, yaitu sekitar petuah-petuah dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.
Selain cerita Si Jantuk dan Sarkawi, yang terkenal di kalangan penonton Topeng Cisalak, yaitu lakon “Mandor Cina” atau “Tuan Besar”. Lakon ini merupakan cetusan hati masyarakat Jawa Barat dalam menghadapi ulah para penguasa yaitu pihak penjajah (Belanda) tempo dulu. Lakon tersebut bersifat satir kadang-kadang sarkasme.
Kehidupan Teater Topeng Cisalak sekarang, seperti pada umumnya teater¬teater rakyat yang lainnya di Jawa Barat, tidak mampu bersaing dengan jenis¬jenis pertunjukan yang tumbuh berikutnya yang cenderung instan.
 
JUDUL               : Topeng Cisalak
HEADLINE               : Persiapan Pergelaran Topeng Cisalak
DESKRIPSI               : Para Nayaga Topeng Cisalak menabuh gending Tatalu
                                                untuk mengumpulkan penonton
Deskripsi oleh       : Yuli Sunarya
PHOTOGRAFER       : Enoch Atmadibrata.
Sumber gambar       : Foto, 1976
Lokasi gambar       : Kmp. Cisalak, Kec. Cimanggis, Kab. Bogor, Jawa Barat
Copyright               : Yayasan Kebudayaan Jayaloka
 
JUDUL               : Topeng Cisalak
HEADLINE               : Pergelaran Topeng Cisalak
DESKRIPSI               : Ronggeng Topeng sedang memperlihatkan
                                                kepiawaiannya menari
Deskripsi oleh       : Yuli Sunarya
PHOTOGRAFER       : Enoch Atmadibrata.
Sumber gambar       : Foto, 1976
Lokasi gambar       : Kmp. Cisalak, Kec. Cimanggis, Kab.Bogor, Jawa Barat.
Copyright               : Yayasan Kebudayaan Jayaloka
 
JUDUL               : Topeng Cisalak
HEADLINE               : Pergelaran Topeng Cisalak
DESKRIPSI               : Ronggeng Topeng menari bersama penari laki-laki
Deskripsi oleh       : Yuli Sunarya
PHOTOGRAFER       : Enoch Atmadibrata.
Sumber gambar       : Foto, 1976
Lokasi gambar       : Kmp. Cisalak, Kec. Cimanggis, Kab Bogor, Jawa Barat
Copyright               : Yayasan Kebudayaan Jayaloka
 
JUDUL               : Topeng Cisalak
HEADLINE               : Pergelaran Topeng Cisalak
DESKRIPSI               : Penampilan ngajantuk yaitu salah
                                                satu bagian pergelaran Topeng Cisalak.
Deskripsi oleh       : Yuli Sunarya
PHOTOGRAFER       : Enoch Atmadibrata.
Sumber gambar       : Foto, 1978
Lokasi gambar       : Gedung Rumentang Siang, Bandung, Jawa Barat
Copyright               : Yayasan Kebudayaan Jayaloka
 
JUDUL               : Topeng Cisalak
HEADLINE               : Pergelaran Topeng Cisalak
DESKRIPSI               : Salah seorang pemain Topeng Cisalak
                                                memakai topeng berwarna merah
Deskripsi oleh       : Yuli Sunarya
PHOTOGRAFER       : Enoch Atmadibrata.
Sumber gambar       : Foto, 1978
Lokasi gambar       : Gedung Rumentang Siang, Bandung, Jawa Barat
Copyright               : Yayasan Kebudayaan Jayaloka
 


Objek Wisata Lainnya