Punden Berundak Leuweung Karamat dan Saunggalah

12-12-2011 Kabupaten Bogor 22627 baca

Print


Punden berundak tersebut berupa hunyur (tanah membukit) yang masih lebat ditutupi semak belukar dan pohon-pohon besar. Hal itu terjadi karena penduduk setempat masih menganggap sakral hunyur tersebut, tidak heran apabila kemudian dinamakan dengan Leuweung Karamat (hutan keramat). Terletak sekitar 500 m ke arah barat dari punden berundak Surawisesa, melalui jalan setapak yang memintas petak-petak sawah.
Keadaan teras punden ini sebagian sudah runtuh, dan terdapat pula teras berundak di dalam suatu teras sehingga agak sukar untuk dihitung jumlah terasnya. Jumlah teras yang dapat diamati sekarang sekitar 15 undakan, dengan orientasi utara-selatan, apabila ditelisik secara cermat mungkin lebih dari 15 tingkatan.  Tinggi teras tertinggi (paling selatan) + 3 m, teras terendah di bagian utara yang berawal pada lahan datar, di tengah lahan tersebut mengalir kali kecil. Kemudian di sisi barat kali terdapat lagi teras bertingkat-tingkat  yang cukup terjal dan tinggi (tingginya + 5 m) membentuk teras tertinggi dari punden berundak yang lain, dinamakan Punden Saunggalah. Dengan demikian agaknya di lokasi tersebut terdapat punden kembar, yaitu Punden berundak Leuweung Karamat dan Punden berundak Saunggalah, antara kedua punden tersebut dipisahkan oleh kali kecil.
Adapun pada teras I-IV pada Punden berundak Leuweung Karamat terdapat batu alam besar yang ditegakkan, jadi dapat pula disebut sebagai menhir di bagian tengah terasnya, keadaan serupa dijumpai pada Punden berundak Majusi. Pada teras VI pada punden yang sama terdapat batu bergores, walaupun goresannya telah aus, dan di teras X dijumpai batu monolit yang ditopang oleh beberapa batu kecil di bawahnya, jadi seperti dolmen, hanya saja lokasinya berada di pinggir teras dan sangat mungkin dapat runtuh ke bawah. Ukuran panjang terpanjang monolit tersebut adalah 2,10 m dengan lebar terlebar  1 m.
Punden berundak Saunggalah  berorientasi timur-barat, teras tertinggi berada di sisi paling timur, pada teras yang luas tersebut sekarang telah berdiri rumah-rumah penduduk. Di pelataran rumah penduduk tersebut sekarang masih terdapat menhir batu dengan puncaknya meruncing. Tinggi menhir tersebut 70 cm dari permukaan tanah, sedangkan lebar terlebar batu tersebut adalah 70, 5 cm.  Teras tertinggi tersebut kemudian melandai ke barat dalam dan membentuk beberapa teras menurun, namun belum sempat dihitung jumlah terasnya, dan juga belum dapat diamati fenomena arkeologis lainnya.

 



Objek Wisata Lainnya