Terompet Sunda

10-08-2011 Jawa Barat 24623 baca

Print


Tarompét adalah salah satu alat music yang  dikenal secara luas dalam budaya Sunda. Nama “tarompet” berasal dari suara atau bunyinya yang “péét… péét …péét” yang dibidang linguistik dan ilmu music disebut onomatopoik. Alat music mainan anak serupa dengan itu, yang dibuat dari batang padi atau daun kelapa muda, juga disebut empét-empétan, yang bisa berarti dua macam: (1) “yang berbunyi péét..péét,” dan(2) “yang meniru [alat musik] empét.”
Nama “terompet” biasa dipakai dalam bahasa Indonesia, yang berasal dari Barat, (trumpet). Akan tetapi, jika trumpet Barat sumber bunyinya dari dua bibir peniupnya yang bergetar, sumber bunyi tarompétSunda adalah dari empét, yang berupa lembaran atau lempeng-lempeng tipis (reed, “lidah”) yang dibuat dari daun kelapa kering. Lempengan empétinilah yang bergetar,saling beradu ketika ditiup sama dengan obo (oboe) yang dalam organologi (ilmu alat musik) disebut double reed (berlidah ganda). Jadi, dari sisi namanya tarompét ini dekat dengan “terompet” tapi dari sisi alatnya dekat dengan obo. Lidah empét bukan hanya 2 (double), tapi ada yang 4 (quadrupel), ada yang 6 (hexaduple), bahkan ada yang 8 (“octadupel”).
Tarompét Sunda yang paling dikenal luas adalah dalam ensambel gendangpenca (kendangpencak).Tapi, selain mengiringi (ibing) penca, gendang penca juga digunakan dalam banyak pertunjukan, seperti sisingaan, kuda rénggong, adu-domba, arak-arakan, sampyong (atau ujungan), sisingaan, permainan layang-layang, sulap, tukang obat, dan pesta-pesta lainnya.
Karena bunyinya yang keras,baik dari tarompét maupun gendangnya, gendang penca merupakan ensambel ruang terbuka (outdoor), walau jumlah alat musiknya relative sedikit. Kombinasi antara gendang dan tarompét (serunai) dalam satu ensambel, terdapat luas di dunia, yang di Asia Tenggara berasal dari Timur Tengah, yang disebut dol(gendang) danzurna (obo). Nama dol, masih dipakai dalam salah satu jenis gendang di Sumatera Barat. Sedangkan zurna, dengan variasi nama seperti surna dan surnai, di Indonesia umumnya disebut serunai (seruné, saruné, sruné).
Musik prajurit (military band, marching band) pada mulanya adalah juga ensambel kombinasi gendang-obo, yang awalnya juga dari Timur Tengah yang berkembang pesat padajaman Otoman, kerajaan Islam di Turki.Pada abad ke-16 atau 17, ensambel itu konon diadopsi dan dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan di Eropa Barat, dan seterusnya hingga menjadi military band “modern” seperti sekarang. Dari Barat, kemudian menyebar lagi keseluruh pelosok dunia, dan banyak yang menyatu lagi dengan musik lokalnya, seperti halnya tanji di daerah Jabotabek. Ensambel gendang serunai ini terdapat dalam pelbagai kepulauan: Sumatera, Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan lain-lain. Namun demikian, selain dalam ensambel “oboe-drum,” di Sunda terdapat suatu jenis gamelan yang memakai tarompét, sebagai pembawa melodi, sepertihalnya suling dan rebab, yaitu ajéng yang terdapat di daerah Krawangdan Bogor (atau Batawi).
Sekitar 20-an tahun terakhir, dikenal dua jenis tarompét Sunda: tarompét penca, dan tarompét sisingaan. Secara prinsip, sistem bunyi dan nada keduanya boleh dibilang sama. Yang membedakannya adalah volume atau kekerasanbunyinya : yang kedua lebih keras ketimbang yang pertama. Karena, tarompét sisingaan diameter tabungnya lebih besar rata-rata 2,5 cm, sementara tarompét penca sekitar 2 cm. Demikian juga empét-nya. Jika empét tarompét pencak ( juga tarompét ajéng ) dibuatdari 2 sampai 6 lembar lidah, tarompét sisingaan 8 lembar. Ukurannya pun lebih besar: sekitar 1 cm X 1,2 cm  untuk tarompét pencak, dan 1,9 cm X 1,3 cm untuk tarompét sisingaan. Dengan itu, walau keduanya memiliki panjang yang sama, sekitar 50 cm, volume bunyinya berbeda.
Tarompét, seperti halnya gendang, suling, dan kacapi, bukan hanya dimainkan dalam ensambel tradisional.Tarompét sekarang, biasa memainkan lagu –lagu popular seperti dangdutan. Demikian pula karya-karya komposisi music dari para seniman muda banyak yang memakai tarompét, termasukjes (jazz). DwikiDarmawan, seorang komponis dan pemain musik yang kini sangat terkenal di Indonesia dan di manca-negara, banyak mengeksplorasi music tradisi Sunda, termasuk tarompét,dengan grup Krakatau-nyayang tersohor. YoyonDarsono, seorang pemusik tradisional asal Sumedang yang juga dosen di STSI Bandung, adalah pemain tarompét yang kerap tampil dalam festival musik di dalam dan luarnegeri, termasuk dengan grup Krakatau.

Sumber : Endo Suanda



Objek Wisata Lainnya