Dalang Topeng Turunan

10-10-2011 Kabupaten Cirebon 24193 baca

Print


Istilah dalang turunan sangat populer di kalangan seniman tradisional. Dalang turunan adalah seseorang dalang atau seniman yang secara genetik mempunyai garis keturunan dengan orang tuanya. Ia biasanya mewarisi keahlian seni itu langsung dari leluhurnya. Dalam sistem
pewarisan seni-budaya, hal semacam itu disebut dengan pewarisan vertikal. Artinya dari bapak atau ibu, turun ke anak, cucu, atau kepada saudara sedarah. Ini berarti sebuah sistem pewarisan yang bersifat biologis (biological transmission) prosesnya berlangsung melalui mekanisme genetik. Disebut sebagai pewarisan tegak (vertical transmission), karena melibatkan penurunan ciri-ciri budaya orang itu ke anak-cucu. Dalam pewarisan tegak, orang tua mewariskan nilai, keterampilan, keyakinan, motif budaya, dan sebagainya kepada anak-cucu. Karena pewarisan itu bersifat ―tegak‖, maka di kalangan dalang topeng terdapat istilah yang disebut dengan dalang topeng turunan, yakni dalang topeng yang masih mempunyai hubungan genetik dengan yang mewariskannya. Biasanya, dalang topeng turunan itu mewarisi banyak keahlian dari yang mewariskannya karena ia adalah orang yang paling banyak memiliki waktu dan intensitas belajar yang lebih jika dibandingkan dengan orang diluar keturunannya. Di samping itu, ada pula istilah dalang topeng keturunan (istilah ini diberikan oleh Sujana Arja, alm.), yakni dalang topeng yang bukan keturunan langsung dari dalang topeng. Ia bisa anak seorang nayaga (penabuh gamelan) atau orang yang memang di luar keturunan dalang topeng itu sendiri. Pewarisan model ini disebut dengan ―pewarisan miring‖.
Dalam kasus pewarisan miring, seseorang belajar dari orang dewasa dan lembaga-lembaga (contoh, dalam pendidikan formal) tanpa memandang hal itu terjadi dalam budaya sendiri atau dari budaya lain. Jika proses terjadi dalam budaya sendiri, istilah enkulturasi lebih sesuai. Jika proses diperoleh melalui kontak dengan budaya lain, istilah akulturasi dan resosialisasi yang digunakan. Istilah terakhir lebih menunjuk ke bentuk pewarisan budaya yang dialami individu melalui kontak dengan, dan pengaruh dari, orang dan lembaga budaya lain ketimbang budaya sendiri.
Dalam beberapa hal, sistem pewarisan tersebut dipandang kurang menguntungkan karena secara tidak langsung menghilangkan, tidak saja sistem yang berkaitan dengan nilai, keyakinan, motif budaya, akan tetapi juga segi keterampilan nopeng itu sendiri. Pembelajaran yang mengandalkan mekanisme ini dilakukan di lingkungan sekolahan, dan pada dasarnya bukan untuk menjadikan anak sebagai dalang topeng, melainkan hanya sebagai ―penari topeng‖. Boleh jadi, yang diajarkan pun hanya beberapa tarian saja dan oleh karenanya ia sangat mungkin hanya bisa menarikan tari topeng itu dengan sangat terbatas. Sistem pewarisan ini juga kurang menguntungkan, karena anak akan kehilangan kreativitas dan ia tidak mengenal sistem improvisasi atau gawe jogedan. Ia hanya menari secara hafalan, sesuai dengan koreografi yang terekam itu. Di dalam pertunjukan topeng Cirebon, gawe jogedan adalah hal yang sangat penting, karena dari sistem inilah kejutan-kejutan gerak itu muncul, dan koreografi tersusun berdasarkan keinginan penarinya. Dalang topeng pada umumnya memiliki kemampuan seperti itu, dan inilah tahap yang paling tinggi.
Dua sistem pewarisan itu memang mempunyai kelemahan dan kelebihannya. Dalam hal ini kita bisa mengetahui perbedaan keduanya, antara enkulturasi dan akulturasi: enkulturasi ialah proses yang memungkinkan kelompok memasukkan anak ke dalam budaya sehingga memungkinkan ia membawakan perilaku sesuai harapan budaya. Sebaliknya, akulturasi menunjuk pada perubahan budaya dan psikologis karena perjumpaan dengan orang berbudaya lain yang juga memperlihatkan perilaku berbeda.
Suatu hal yang menarik untuk diperhatikan, bahwa biarpun pewarisan itu bersifat tegak, seringkali hasilnya bukan merupakan pengulangan atau tidak sama persis dengan generasi yang mewariskannya. Kasus ini hampir terdapat dalam banyak seni tradisi di Jawa Barat, dan oleh sebab itu pula, mengapa para dalang topeng Cirebon—walaupun mereka masih dalam satu keturunan—mempunyai gaya menari sendiri-sendiri. Masing-masing dalang topeng
mempunyai ciri khas; memiliki kepekaan estetis; dan memiliki kemampuan di dalam menafsir tari-tariannya. Oleh karena itu pula kita mengenal berbagai gaya topeng, baik gaya individualmaupun gaya komunal.
Di lain pihak, proses pewarisan budaya tidak mengarah ke pengulangan generasi yangsuksesif. Proses ini terletak di antara pewarisan yang pasti (dalam arti hampir tidak ada perbedaan antara orang tua dan keturunan) dan kegagalan pewarisan yang hampir lengkap(dalam arti turunan sama sekali tidak menyerupai orang tua). Proses yang berlangsung, memang, lebih mendekati tujuan untuk melakukan pewarisan terhadap keseluruhan spektrum ketimbang sebaliknya. Secara fungsional, kendati pada tingkat ekstrem, proses ini mungkin menimbulkan persoalan bagi masyarakat: pewarisan yang terlalu pasti tidak memungkinkan pembaruan dan perubahan. Di sini perlu kemampuan untuk menanggapi situasi baru. 


Objek Wisata Lainnya