Gagalan Panji

12-12-2011 Kabupaten Cirebon 23310 baca

Print


Gagal (Bhs. Cirebon), artinya mulai. Gagalan Panji artinya tanda dimulainya tari topeng Panji. Dalam pertunjukan topeng Cirebon, gagalan Panji adalah semacam pintu pembuka, sebagai ciri bagi dalang topeng untuk mulai menari dan bagi pertunjukannya itu sendiri. Lagunya bernama kratagan yang artinya mengejutkan. Dalam tari Topeng Panji, Gagalan Panji adalah suatu keharusan, durasinya (lama-sebentar) bukanlah pokok. Tanpa pembuka gagalan, tari tersebut tidaklah sempurna, ia adalah bagian yang cukup penting bahkan sebagai salah satu cirinya. Lagu dalam gagalan (kratagan) sebenarnya merupakan kependekan dari tetalu yang juga lagunya kratagan. Jika kratagan dalam tetaluan durasinya bisa sangat panjang, gagalan sebaliknya.
Sebagai cirinya, lagu itu dimulai dengan sebuah tabuh serempak pada nada sepulu atau galimer (nada gamelan bilah keempat atau kelima dari kanan). Ditalu keras secara bersamaan. Mula-mula pengeprak itu menengok ke arah belakang, ke kiri dan kanan seraya memperhatikan kesiapan para nayaga untuk gagalan. Ia kemudian mengajak mereka: ―yu”, dan biasanya para nayaga menjawabnya ―ya”. Pengeprak segera mengangkat alat tabuh yang digenggam tangannya, kemudian dengan cepat ia menariknya ke bawah dan menghentakkannya ke kecrek yang tergantung di samping kotak. Seketika itu pula terdengar bunyi: jréng! Membuat orang terkejut.
Musik gagalan yang bergelora, adalah semacam operture yang seringkali membuat orang terhenyak. Ketika gelora itu reda, dan gamelan ditabuh dengan intensitas bunyi yang
tidak terlalu keras, musik mulai menghadirkan suasana yang tenang. Tiba-tiba, pengeprak (penabuh kecrek) memainkan alat tabuhnya. Sekilas, gerakan-gerakannya mirip dengan igel-igelan (gerakan main-main) yang mampu membuat operture itu terasa sangat aneh. Gagalan adalah suatu awalan tari yang amat jarang ditemukan dalam genre tari di Jawa Barat.
Kedua alat tabuh itu ditarikannya secara bergantian, kiri dan kanan, kadang-kadang kedua-duanya secara bersamaan. Gerakannya menirukan berbagai gerakan tari seperti incek atau adu bapa. Pengendang dengan setia mengikuti gerakan-gerakan alat tabuh itu, persis seperti mengikuti seorang penari atau gerakan wayang. Tarian alat tabuh itu terus berlanjut sampai gagalan mencapai irama puncaknya. Lagu itu berakhir dan berhenti secara serempak mengikuti aba-aba dari pengeprak tadi.
Para dalang topeng tidak bisa mulai manji jika gagalan belum ditabuh. Hal ini sangat terkait dengan apa yang dikatakan mereka, bahwa tari topeng Panji dianggap sebagai ikon bayi lahir. Oleh karena itu amatlah logis jika gagalan dianggap sebagai proses dari awal kelahiran. Topeng Panji adalah simbol sangkan paraning dumadi, asal lan terusing dumadi. Asal dan berlanjutnya kehidupan. Sukarta, dalang wayang dari Bongas, Majalengka, menggambarkan tentang Panji sebagai berikut:
Sadurunge Risang Panji tumandang, iku diwiwiti swaraning tabuhan ingkang gumerah sasanteré. Wanda ambreg oranana kang kari sepisan. Jreng! Sagetakan kang mawa swara angbata rubuh, yaiku sasmitané kekarepan, antara „yu‟ lan „ya‟. Ing kono, Risang Panji ana ing telenging rasa, aran Risang Sukma Manglayang. Mangka irama ing tabuhan ana alon ana kenceng, iku sasmitaning papadon ing sakloran, wong loro. Ing kono Risang Panji aran Risang Sukma Maya, mangka swaraning tabuhan mandeg taya alon lan pungkasané lirén rep babar pisan, kang ana mung swarané swasana panggung. Ing kono Risang Panji aran Risang Manikem. Artiné tepunging mani sakloran. Banyu kang aran Tirta Marta Mahadi, utawa Tirta Maya Kamandanu (banyu urip, kang éndah ora kena kinayangapa). Ning kono Risang Sukma Maya manggon ing kraton agung sangang wulan lawase.
Sebelum Risang Panji tampil (menari), diawali suara tabuhan yang sangat bergemuruh amat keras. Semua ditabuh tidak ada yang tertinggal satu pun. Jreng! Serempak seperti suara tembok runtuh, itu adalah perlambang keinginan antara yu (suami) dan ya (istri). Di sana, Risang Panji ada di tengah-tengah rasa namanya Risang Sukma Manglayang. Itulah sebabnya mengapa irama gamelan kadang-kadang pelan kadang-kadang cepat. Itu perlambang perpaduan antara dua insan. Di sana Risang Panji bernama Risang Sukma Maya. Itulah sebabnya suara gamelan berhenti tanpa irama lambat dan akhirnya berhenti sama sekali, yang ada hanya suasana di panggung. Di sana Risang Panji bernama Risang Manikem, artinya bertemunya air mani suami-istri. Air yang bernama Tirta Marta Mahadi, atau Tirta Maya Kamandanu (air hidup yang indahnya tak terlukiskan). Di sana Risang Sukma Maya diam di keraton agung (rahim) sembilan bulan lamanya).
Gagalan adalah paradoks ‗tiada‘ dan ‗ada‘, yakni alam kosong menjadi alam isi. Irama musik yang cepat (deder) dan tabuh yang bersamaan adalah simbol penyatuan dualistik (opisisi berlawanan). Dimensi dualistik adalah simbol bersatunya ‖laki-laki‖ dan ‖perempuan‖ (saresmi); terjalinnya rasa cinta suami-istri. Oleh sebab itu, pada bagian ini tidak pernah ada senggak (semacam teriakan kecil yang bersahutan sesuai dengan irama musik). Ini layaknya dua insan yang tengah memadu kasih, jauh dari suasana ‖keterbukaan‖ dengan dunia sekelilingnya, yang terlihat hanyalah sibuknya tangan nayaga dan terdengarnya gelora suara musik itu. Senggak dan nglagon baru bisa dilakukan setelah gagalan selesai. Ini adalah gambaran hidup manusia Jawa atau Indonesia, bahwa sesuatu hal yang berhubungan dengan seksualitas itu bersifat tertutup, bahkan sakral.
Tanda kelahiran ‗bayi‘ itu adalah bunyi gong di akhir gagalan itu yang segera disambung dengan ngertawara (semacam prolog pendek).
Gégéré wong keraton
Diwalik sumpingé
Surak nayaga kang ramé
Heup . . .
Semua nayaga menimpali:
Horsééééé . . .

Siapa yang menggegerkan itu? Dialah bayi yang tadinya berada dalam keraton atau gua-garba (keraton = kandungan). Ia telah lahir ke dunia (diwalik sumpingé), dan sanak saudara si bayi tadi riang gembira, sukacita. Ngertawara (nyandra) itu simbol dari semua itu. Simbol kegembiraan dan kesukacitaan, karena seorang ibu yang menempuh proses melahirkan sebenarnya berada pada dua situasi yang kritis. Kedua-duanya (ibu dan bayi), atau salah satu dari itu, berada di ambang antara hidup atau mati. Itulah sebabnya mengapa ketika ibu dan bayinya selamat, orang di sekitarnya geger. 



Objek Wisata Lainnya