Gaok - Nyanyian Sunda

12-12-2011 Jawa Barat 26127 baca

Print


Gaok adalah suatu jenis (genre) nyanyian dalam budaya Sunda. Kebanyakan dilakukan secara "komunal," oleh beberapa penyanyi (3, 4, bahkan sampai belasan orang), yang, pada masa lalu, datang secara bebas (suka-rela) bukan merupakan suatu grup tetap, hampir tak berbeda dengan para penontonnya. Seseorang membacakan wawacan, yang terdiri dari bait-bait syair, dan begitu selesai satu baris, teks itu segera "diambil" oleh salah seorang penyanyi, dengan dinyanyikan. Begitu selesai nyanyian, si pembaca membacakan baris kedua, yang segera juga "diambil" oleh penyanyi dengan melantunkannya. Dan demikian seterusnya.
Mengenai siapa penyanyi yang akan menyanyikan teks yang dibacakan itu, pun dilakukan spontan, tidak ditentukan urutannya. Siapa saja yang paling dahulu bersuara, yang lain tak boleh merampasnya. Tentu sering terjadi dua atau tiga orang penyanyi secara bersamaan angkat suara, mereka harus mengalah untuk tidak melanjutkannya, sehingga yang menyanyikan baris secara penuh hanya seorang saja--dan juga biasa terjadi semuanya berhenti untuk memberi kesempatan pada salah seorang dari mereka. Sebagai peristiwa komunal, kejadian seperti itu bukanlah hal yang penting untuk "dinilai" sebagai kebaikan atau kegagalan pertunjukan, malah dianggap sesuatu yang menambah suasana keriangan. Demikian pula ketika si penyanyi tidak mengikuti teks pembacaan secara tepat, maklum ia terburu (secara sengaja agar nyanyian tak terputus) untuk melantunkan sebelum baris itu dibaca selesai. Kata-kata yang "salah" itu menjadi suatu yang lucu, bahan tertawa, dan tidak menghasilkan kredit buruk pada penyanyinya.
Gaok (di beberapa wilayah disebut beluk), umumnya dinyanyikan dalam wilayah nada tinggi, banyak memakai "suara kepala" (yodle, head-voice), dan dengan lantunan panjang, satu baris satu nafas.
Seorang penyanyi menyanyikan satu-dua bait saja dari suatu lagu (pupuh), yang kemudian diganti oleh penyanyi lainnya. Ada suatu standar dari suatu lagu itu, yang bisa disebut melodi atau kontur dasar, namun variasinya sangat banyak karena dilakukan spontan sehingga setiap orang bergantung pada selera dan kemampuan suaranya masing-masing.
Kesenian ini diadakan untuk suatu acara syukuran, hajatan individu. Si empunya hajat mengundang warga kampung untuk acara itu, dengan memberitahukan akan diadakan gaok. Si empunya hajat menyediakan (milik sendiri atau pinjaman) buku untuk dibaca, tapi karena bukan suatu grup yang formal, baik pembaca maupun penyanyinya akan tergantung pada para tamu yang datang itu.
Cerita dari wawacan ("bacaan") tidak terlalu banyak jumlahnya. Yang sering dibacakanpada tahun 1960an di daerah Majalengka, umpamanya, adalah Sulanjana, Rengganis, dan Panji Wulung, maklum tradisi membaca dalam seni pertunjukan belum terlalu lama, sertawawacan yang berupa pupuh ini pun merupakan pengaruh baru dari Mataram. Tradisi ini, dimana ada satu orang pembaca, dan para penyanyi menyanyikan yang dibacakan itu, mungkinawalnya karena di desa-desa tak banyak orang bisa membaca, termasuk para penyanyi. Jadi,walaupun gaok adalah kesenian yang bersumber pada bacaan (literatur) aspek kelisanan dalam tradisi ini sangat tinggi. Yang serupa dengan gaok atau beluk di Sunda, adalah bujangga di Indramayu-Cirebon),macapat di Jawa, kakawin di Bali, dan cepung di Lombok. 


Objek Wisata Lainnya