Sri Sulanjana – Cerita Mapag Sri

12-12-2011 Kabupaten Subang 26154 baca

Print


Cerita ini dituturkan oleh Supendi, dalang wayang kulit asal Babakan Bandung, Cipunagara, Kabupaten Subang. Lakon wayang Sri Sulanjana adalah lakon khusus untuk upacara mapag sri. Intinya mengisahkan asal-usul perabot yang berkaitan dengan pertanian dan perabot rumah tangga. Berikut adalah kisahnya.
Di negeri Amarta, Raja Darma Kusumah dan adik-adiknya, sedang menerima tamu dari negara Dwarawati, Prabu Krena, yang juga dihadiri oleh para pawongan, Semar dan anak-anaknya. Mereka sedang membicarakan untuk mengganti makanan yang selama ini dimakan rakyatnya, yakni kentang kumeli gundem jumawut. Makanan yang diusulkan sebagai penggantinya adalah Sri Pohaci. Ketika Prabu Kresna bertanya kepada Arjuna yang pernah bertemu dengan Sri Pohaci, bahwa Sri Pohaci tidak perlu disuruh datang, sebab nanti pun pada waktunya ia akan datang sendiri ke Pulau Jawa. Sri Pohaci mau datang ke Pulau Jawa asal seluruh kemauannya terpenuhi. Sri Pohaci meminta kepada Arjuna untuk mengadakan beberapa hal sebagai berikut:
Pertama, Arjuna harus menyediakan Bale Kancana Saka Domas yang ada di Gunung Timpuru. Kedua harus menyediakan sepasang Lembu Kenya. Ketiga, harus menyediakan Gajah Dama Putih yang dikepala terdapat totopong (hiasan kepala) yang dihiasi emas dan inten berlian. Keempat, harus menyediakan Gamelan Silokananta yang dibuat manusia akan tetapi tidak berhak untuk menabuhnya. Kelima, harus menyediakan layangan yang terbuat dari emas. Ketika permintaan ini terpenuhi, Sri Pohaci berjanji bahwa ia akan datang ke Pulau Jawa pada bulan Anggara Kasih pada somah tanggal 12.
Setelah mendengar keterangan dari Arjuna, Prabu Kresna lalu memanggil Rd. Gatotkaca dan Rd. Antareja, gatotkaca disuruh untuk mengambil Bale Kancana Saka Domas sedangkan Antareja disuruh untuk mencari sepasang Lembu Kenya. Sementara itu, Rd. Bima disuruh ke Pulau Nusakambangan untuk mengambil Gajah Dana Putih yang kepalanya dihiasi emas dan inten, berlian. Mereka kemudian bergegas menuruti perintah Prabu Kresna.
Gatotkaca pergi menuju gunung Timpuru, dan di tengah perjalanan ia dihadang denawa buta bernama Detia Kala Werka. Gatotkaca dilarang masuk ke gunung tersebut, apalagi jika akan mengambil Bale kencana. Gatotkaca memaksa dan terjadilah peperangan. Detia Kala Werka dapat dikalahkan, namun jasadnya menghilang dan menjadi Ilir Talaga Ngembeng, atau hihid (kipas). Gatotkaca akhirnya masuk ke gunung Timpuru dan ia bertemu dengan seorang Pandina bernama Begawan Besa Warna yang tengah menunggui Bale Kencana. Begawan Besa Warna menceritakan bahwa, ia hanya sekedar menunggui bale tersebut atas tugas dari Batara Guru dan jika ada orang Pendawa yang membutuhkan bale ini maka bale tersebut harus diberikan. Bale akhirnya diberikan kepada Gatotkaca dan dibawanya terbang. Ketika ia mau sampai ke alun-alun keraton Pandawa, ia merasa pundaknya pegal dan bermaksud untuk mengalihkan pikulannya ke pundak yang sebelah. Akan tetapi, bale tersebut terlepas dan hilang dan berubah wujud menjadi Saung Sangar. Dikatakan bahwa, Saung Sangar itu berada di Pamijahan yang konon sering diziarahi para petani manakala mereka akan menanam padi. Oleh sebab itu, para petani yang datang ke tempat itu biasanya diberi bibit padi hitam.
Antareja yang diutus untuk mengambil sepasang Lembu Kenya, pergi menuju negara Trajutisna. Lembu Kenya adalah kepunyaan Prabu Bomantara di kerajaan Trajutisna yang juga sama-sama dititipi oleh Betara Guru. Seperti juga Bale Kencana, Lembu Kenya harus diberikan jika orang Pandawa membutuhkannya. Akhirnya Lembu Kenya dibawa Antareja. Lembu Kenya diperlukan untuk menggarap sawah di negara Pandawa. Lembu artinya sapi dan Kenya artinya putih. Lembu Kenya adalah sapi putih. Menggarap sawah dengan cara diwuluku (dibajak) yang ditarik oleh dua ekor sapi.
Bima yang disuruh mencari Gajah Dana Putih pergi ke Nusakambangan. Ia harus menyeberangi lautan. Ketika sampai di tengah lautan, kakinya digigit Buaya Putih. Buaya ditendang sampai terpental ke daratan, namun bangkainya menghilang dan berubah menjadi lesung. Dua anak buaya juga menggigit kaki Bima, keduanya ditendang juga terpental sampai ke daratan. Bangkai keduanya juga menghilang dan menjadi dua buah alu.
Bima akhirnya sampai ke Pulau Nusakambangan dan kedatangannya diketahui Gajah Dana Putih. Ia diserang gajah tersebut dan terjadilah pergulatan di antara keduanya. Bima mempunyai kesaktian di kukunya yakni Kuku Pancanaka, gajah pun ditusuknya. Gajah kalah, namun seperti juga buaya, bangkainya menghilang dan menjadi berbagai macam perabot dapur. Hiasan kepalanya menjadi aseupan, perutnya menjadi seeng, telinganya menjadi nyiru, dan sebagainya.
Syarat yang keempat yakni harus mengadakan Gamelan Silokananta. Yang dimaksud adalah sondari yang seruas bambu yang dilubangi. Sondari ketika tertiup angin biasanya berbunyi ngiung, ngiung. Itulah yang dimaksud Gamelan Silokananta yang dibuat manusia namun yang menabuhnya bukan manusia, melainkan angin. Sedangkan syarat yang kelima harus mengadakan goong sakati, yang dimaksud adalah kitiran atau kolecer yang harus dibuat dari kayu waru atau jati.
Setelah segala macam syarat terpenuhi dengan segala macam peristiwanya, negeri Amarta tidak kekurangan pangan. Rakyat yang tadinya makan kentang kumeli gundem jumawut, diganti dengan beras, dan tidak khawatir akan mati kelaparan. Negara Amarta pun menjadi aman tenteram.

Tentang kedatangan Sri Pohaci yang disebutkan pada bulan anggara kasih pada somah tanggal 12, maksudnya adalah, bahwa hari itu ada hitungannya dan ada jodohnya. Hari Senin jodohnya Kamis; hari Selasa jodohnya Sabtu; hari Rabu jodohnya Minggu; hari Jum‘at jodohnya Jum‘at. Arti dari tanggal 12, tiada lain, bahwa hitungan jodohnya hari itu berjumlah 12. Selasa naktu 4 – Kemis naktu 8; Selasa naktu 3 – Sabtu naktu 9; Rabu naktu 7 – Minggu naktu 5; Jumat naktu 6 – Jum‘at naktu 6. Demikian jodoh tiap-tiap hari yang jumlah hitungannya 12. 



Objek Wisata Lainnya