Tanji

04-08-2015 Jawa Barat 23858 baca

Print


Tanji adalah salah satu perangkat karawitan Sunda yang sebagian besar waditranya (instrumen) terdiri atas instrumen musik Barat, seperti Clarinet, Trompet, Trombon, Bass Drum, dan Snare, yang dilengkapi dengan Ketuk, Goong, dan Kecrek. Kesenian serupa berkembang di daerah Karawang, Bekasi dan sekitarnya, yang lazim disebut dengan nama Tanjidor. Tanji dan Tanjidor adalah dua jenis kesenian yang serupa tetapi berbeda. Perbedaan itu bukan hanya dikarenakan tempat berkembang dan namanya, akan tetapi juga aspek musikalnya. Tanjidor lebih mengarah kepada garap musikal nada-nada diatonis, sehingga lagu-lagu yang dibawakan biasanya lagu-lagu yang menggunakan tangga nada diatonis. Sedangkan Tanji lebih mengarah kepada garap musikal nada-nada pentatonis (karawitan Sunda), sehingga lagu-lagu yang dibawakannya adalah lagu-lagu karawitan Sunda, baik dalam laras Salendro, Pelog (Degung), maupun laras Madenda.
Tanji lahir dan berkembang di Sumedang pada tahun 1965-an, tepatnya di Kampung Sumber, Desa Bojongloa, Kecamatan Buahdua, Provinsi Jawa Barat. Awal keberadaannya dimulai oleh kedatangan seseorang yang bernama Arkilin, yang sering dipanggil Aki Ilin, dari daerah Haurgeulis, Kabupaten Indramayu. Ia adalah pedagang keliling dan suatu saat sampai ke kampung Sumber, daerah Buahdua. Di Kampung Sumber ia bertemu dengan seorang seniman Reog bernama Inggi, seorang pengrajin Gula Kawung (gula merah atau gula aren). Ketika Aki Ilin mengetahui bahwa Inggi adalah seniman, ia menawarkan alat-alat kesenian yang ia sebut dengan istilah parabot musik, atau alat-alat musik Barat. Inggi kemudian membeli alat-alat itu, yang terdiri atas Clarinet, Trompet, Trombon, Corno, Tenor, Bass, Bass Drum, dan Snare.
Alat-alat musik tersebut oleh Inggi masih diperlakukan sebagai alat download drama korea musik Barat, untuk memainkan lagu-lagu perjuangan, seperti lagu Halo-halo Bandung, Maju Tak Gentar, dan lain sebagainya. Alat yang dimainkannya adalah Clarinet, yang ia sebut sebagai suling (seruling). Sampai saat ini Clarinet dalam Tanji disebut dengan nama suling. Namun karena jiwa karawitan Sunda pada diri Inggi sangat kuat, tanpa disadari teknik memainkan Clarinet yang dilakukannya mengarah kepada rasa musikal karawitan Sunda, sehingga nada-nada yang terdapat dalam Clarinet itu dibentuk menjadi nada-nada laras Salendro, Pelog, dan Madenda, dengan cara menutup atau membiarkan lubang-lubang nada tertentu dari Clarinet itu terbuka.
Setelah Inggi menemukan konsep dan teknik memainkan Clarinet, Inggi mengajak beberapa seniman lainnya yang ada di daerah tersebut, antara lain Pak Amos, untuk memainkan alat-alat lainnya. Proses latihan dilakukan sambil ngaronda (siskamling) dalam waktu yang cukup lama, dan pada tahun 1967-an mereka baru menemukan konsepsi musikal yang utuh yang ditandai dengan bergabungya Tanji sebagai pengiring Kuda Renggong. Mulai saat itulah Tanji dikenal di daerahnya, yang oleh masyarakat disebut dengan nama ‗musik‘. Inggi kemudian mendirikan kelompok Tanji dengan nama Musik Inggi.
Saat ini Tanji berkembang ke desa-desa lainnya, seperti Desa Cikurubuk, Citaleus, Karang Bungur, Cibitung, dan Cilangkap, bahkan ada pula yang berkembang di Kecamatan Conggeang. Populasi kesenian Tanji tidak sesubur kesenian lainnya. Hal itu dikarenakan alat-alatnya yang cukup mahal, yang tidak sepadan dengan penghasilan para senimannya. Hal itu pula yang menyebabkan penyusutan instrumen, terutama alat tiup yang berasal dari musik Barat, dan diganti dengan alat-alat karawitan. Bass diganti dengan kempul dan goong, Corno diganti dengan ketuk. Oleh karena itu perangkat Tanji saat ini hanya terdiri atas Clarinet, Trombon, Trompet, Bass Drum, Snare, yang dilengkapi dengan Goong, Ketuk, dan Kecrek.

Lagu-lagu Tanji yang dibawakan pada waktu itu diadaptasi dari lagu-lagu yang berkembang pada kesenian Ketuk Tilu, Jaipongan, Kiliningan, bahkan lagu-lagu Dangdut. Khusus di Kecamatan Buahdua, Tanji identik dengan Kuda Renggong, karena pertunjukan Kuda Renggong selalu diiringi dengan Tanji. Tetapi pada perkembangannya, selain berfungsi sebagai pengiring Kuda Renggong, Tanji saat ini terkadang dipergelarkan pula sebagai hiburan untuk menari, seperti layaknya pertunjukan Ketuk Tilu atau Jaipongan. 



Objek Wisata Lainnya