Lisung atau Lesung

-- 3668 baca


Lisung (Sunda) atau lesung, lumpang, adalah wadah untuk menumbuk padi yang terbuat dari kayu gelondongan yang dibuat persegi panjang. Bagian tengahnya dikeruk sehingga menjadi legok, menyerupai parit. Di kedua ujungnya ada yang diberi lubang berdiameter sekitar 20 cm dan ada yang tidak. Demikian pula di bagian ujung pucuknya, ada yang diberi lengkungan yang disebut gelung dan ada yang polos. Lisung selalu berpasangan dengan halu (Sunda) atau alu. Panjangnya bermacam-macam, tergantung dari panjang dan besarnya kayu yang dibuatnya. Dalam peribahasa Indonesia kita mengenal ungkapan lesung pipit, artinya pipi yang dekik.
Lisung, terkait dengan tradisi masyarakat desa yang sering dihubungkan dengan berbagai ritus kehidupan seperti khitanan, perkawinan, gusaran, panen, dan sebagainya. Pada zaman dahulu, lisung, selain berfungsi secara praktis sebagai wadah untuk menumbuk padi, bunyi tumbukannya juga berfungsi sebagai tanda bagi seseorang yang akan mengadakan kenduri. Bunyi tumbukan lisung yang nyaring itu disebut Tutunggulan. 
Ketika teknologi penggilangan padi belum berkembang seperti sekarang ini, lisung mempunyai peran yang sangat vital untuk pengadaan beras. Akan tetapi, ketika teknologi tersebut semakin berkembang pesat, dan kemudahan pengadaan beras semakin cepat pula, kini lisung menjadi barang langka dan antik. Bahkan di beberapa tempat (toko barang antik misalnya), lisung diperjualbelikan atau menjadi hiasan interior rumah. Akhirnya, lisung hampir tidak pernah difungsikan lagi sebagai alat untuk menumbuk padi, bahkan barangnya pun sudah jarang ditemukan. Lisung, sesekali dapat disaksikan penggunaannya pada acara-acara tertentu, misalnya dalam upacara adat Seren Taun di Cigugur, Kabupaten Kuningan, atau dalam hiburan Tutunggulan dan  Gondang.
Asal-usul lisung terdapat dalam cerita wayang kulit Sri Sulanjana yang biasanya hanya dilakonkan dalam pergelaran yang berkaitan dengan upacara Mapag Sri. Salah satu adegan dalam lakon tersebut menceritakan tentang Antareja yang diutus Kresna untuk mengambil sepasang Lembu Kenya. Lembu artinya sapi dan Kenya artinya putih. Lembu Kenya artinya sapi yang berwarna putih dan merupakan binatang kesayangan Prabu Bomantara di kerajaan Trajutisna. Binatang tersebut adalah titipan dari Betara Guru dengan pesan, bahwa jika ada seseorang dari Pendawa meminta dan membutuhkan kedua hal tersebut, maka  harus diberikan kepadanya. Antareja kemudian pergi menuju negara Trajutisna dan akhirnya Lembu Kenya dapat dibawa oleh Antareja ke Amarta. Lembu tersebut diperlukan untuk menggarap sawah di negara Pandawa.
Sementara itu, Bima disuruh mencari Gajah Dana Putih dan ia pergi ke Nusakambangan dengan menyeberangi lautan. Ketika sampai di tengah lautan, kakinya digigit Buaya Putih. Buaya itu kemudian ditendang dan terlempar sampai ke daratan, namun bangkainya menghilang dan menjadi lesung. Dua anak buaya juga menggigit kaki Bima, keduanya ditendang juga dan sampai ke daratan. Bangkai keduanya juga menghilang dan menjadi dua buah alu (halu, Sunda).
 

Penulis: Toto Amsar Suanda 


Kata lainnya