Jagat

-- 2643 baca


Gebog (bhs. Sunda), atau ada juga yang menyebut gedebog, adalah batang pisang. Dalam pertunjukan kesenian, khususnya wayang golek atau kulit, gebog mempunyai peranan yang sangat penting. Malah sangat mungkin, jika tanpa ada gebog, pertunjukan wayang tidak akan bisa dilaksanakan, karena wayang tidak akan bisa ditancapkan dan dimainkan.
Di dalam pertunjukan wayang, gebog yang dipakai untuk menancapkan wayang-wayang yang dimainkan biasanya berjumlah dua batang dan panjangnya kira-kira 1, 5 m. Dalam tradisi wayang, panjang gebog tidak diukur dengan meteran melainkan dengan jengkal sebanyak tujuh jengkal. Jari yang dipergunakan untuk menjengkal adalah ibu jari dan jari tengah. Kedua batang gebog kemudian disatukan dengan cara dipasak agar tidak bergelinding. 
Gebog tersebut diletakkan secara horizontal, yang satu pangkalnya dijulurkan ke sebelah kiri dan yang satu lagi sebaliknya. Kemudian ditancapkan pada dua buah penyangga. Pangkal gebog yang menjulur ke sebelah kiri biasanya diletakkan paling depan, dan yang satunya lagi di belakang. Jika kedua batang gebog itu sudah disangga dan berada di hadapan dalang, maka ia berubah nama menjadi Jagat. Dalam tradisi Wayang Cepak, gebog yang paling depan (di hadapan dalang) disebut dengan Jagat Kabir, dan yang di belakangnya disebut Jagat Sagir, atau Jagat Ageung dan Jagat Alit. 
 Kaki penyangga yang tingginya kurang-lebih sebahu dalang yang sedang duduk, atau kurang lebih 70 cm dikenal dengan istilah tapak dara. Diletakkan di bagian sisi paling depan, tepat di tengah-tengah panggung. Agar badan dalang tidak kelihatan langsung dari arah penonton, jagat tersebut biasanya ditutupi pandel yang bertuliskan nama dalang dan nama grup wayang yang dipimpinnya beserta alamatnya. 
Dua batang gebog lagi—panjangnya kira-kira dua meter—dipakai untuk menancapkan wayang-wayang yang akan dimainkan dan diletakkan di sisi kiri kanan jagat. Kedua gebog tersebut disebut gebog janturan.  
Gebog yang difungsikan sebagai “jagat”, bukan hanya mempunyai nilai praktis—sebagai alat untuk menancapkan wayang-wayang—akan tetapi juga mempunyai nilai simbolik. Secara simbolik, jagat tersebut mengingatkan kita akan dua hal yang bertentangan (paradoksal). Menurut faham primordial, dua hal yang bertentangan itu suatu saat harus dipertemukan agar terjadi persesuaian atau keselarasan (harmoni). Jika diperhatikan cara penyatuan kedua gebog sebagai “jagat” itu, maka kita akan melihat suatu hal yang paradoks. Pangkal gebog yang satu bersanding dengan ujung gebog yang satunya lagi. Ketika pangkal dan ujung disandingkan maka lebar masing-masing ujung “jagat” itu akan sebanding. Itulah harmoni dari apa yang disebut oposisi binner, yakni penyatuan dua unsur yang bertentangan, pangkal dan ujung (pucuk).    
Alegori dalam pertunjukan wayang yang dilambangkan dengan dua buah gebog tadi, adalah bumi, sebagai panggungnya kehidupan. “Jagat” adalah gambaran kehidupan makrokosmos, yakni tempat manusia menginjakkan kaki, menundukkan dan menengadahkan kepalanya. Penggambaran itu adalah realitas kehidupan. Bumi dengan segala isinya adalah panggung sekaligus lakon kehidupan, dan langit dengan segala bintangnya adalah payung dan cahaya yang menerangi. Kita hidup karena ada yang menghidupkan. Dalam kehidupan, siang dan malam pun berganti tanpa terasa. Dalam wayang, satu jam sama dengan satu menit, sehari sama dengan satu jam, seminggu sama dengan sehari, dan sebulan sama dengan seminggu. Demikian alegori yang sering diucapkan dalang dari jagat batang pisang.
 
Penulis: Toto Amsar Suanda

Kata lainnya