Serat Kanayagan

-- 7612 baca


Serat Kanayagan adalah salah satu bentuk notasi untuk menuliskan nada-nada musik atau karawitan, baik untuk nada-nada gamelan maupun lagu. Istilah tersebut pertama kali disampaikan oleh Rd. Machyar Angga Kusumadinata pada tahun 1923 untuk menunjuk lambang-lambang nada yang diwujudkan dalam bentuk suku kata dan angka. Oleh sebab itu, lambang-lambang nada itu kemudian disebut dengan notasi angka yang kemudian dikenal dengan sebutan da, mi, na, ti, la, yang lambang angkanya 1, 2, 3, 4, 5, mirip dengan notasi angka dalam tangga nada diatonis (musik) yang disebut dengan solmisasi yang dilambangkan pula dengan angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 (do, re, mi, fa, so, la si) atau dengan lambang-lambang bulatan yang disertai dengan “bendera” yang disebut dengan notasi balok. Di Bali,  lambang-lambang nada itu tidak diwujudkan dalam bentuk angka, akan tetapi dalam bentuk simbul yang disebut dengan notasi selonding atau ding dong. Istilah-istilah lainnya adalah serat lagu atau buka swara, noot gending, dan enoot (nut). Semua istilah itu akhirnya bermuara pada satu istilah yang paling umum yang disebut dengan notasi. 
Serat Kanayagan secara harfiah kurang-lebih berati “tulisan karawitan”. Serat (Sunda) artinya tulis, dan Kanayagan artinya karawitan. Jadi, Serat Kanayagan mempunyai makna sebagai cara untuk menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan bunyi tonal yang muncul dari berbagai macam sumber suara karawitan misalnya gamelan, suara manusia (lagu), dan lain-lain.
Di Jawa dikenal pula notasi Kepatihan yang juga dilambangkan dengan suku kata nem, mo, lu, ro, ji, dan angkanya 6, 5, 3, 2, 1. Nem mo lu ro ji, merupakan singkatan dari nenem (enam), limo (lima),  telu (tiga), loro (dua), dan  siji (satu). Da mi na ti la dan do re mi fa so la si bukanlah singkatan seperti notasi Kepatihan tersebut di atas. 
Lambang-lambang suku kata dan nada kemudian ditambah sesuai dengan tangga nada atau laras yang dipergunakan. Misalnya untuk laras Pelog, ditambah dengan lambang suku kata ni dan leu, yang lambang angkanya 3- dan 5+. Dalam notasi Kepatihan lambang angka tersebut dibaca dengan pat singkatan dari kata papat, artinya empat, dan pi singkatan dari kata pitu, artinya tujuh.
Lambang-lambang lainnya disertakan di atas dan di bawah angka-angka untuk menunjukkan berbagai bentuk suara, misalnya lambang titik di atas dan di bawah lambang angka menunjukkan nada tinggi dan rendah atau ageng dan alit. Misalnya nada 5 (la) tinggi dan 5 (la) rendah. Lambang lainnya adalah  ^ artinya stakato, biasanya disimpan di atas nada-nada; garis lengkung        (legato) biasanya disimpan di bawah lambang nada-nada untuk menggabungkan nada yang berbeda. Lambang-lambang lainnya adalah garis drama korea terbaru di atas nada-nada untuk menunjukkan birama setengah, seperempat, dan lain-lain. Misalnya garis satu untuk dua nada berarti setengah ketukan   (1  5 ), garis dua di atas tiga nada sama dengan seperrempat ketukan ( 2  32 ).    
Ketika lambang-lambang angka itu diterapkan pada gamelan, saron misalnya, maka kita akan sekaligus mengetahui nada-nada yang terdapat pada setiap bilahan saron tersebut. 
Penulis: Toto Amsar Suanda

Kata lainnya