Wisata Ziarah Melongok Masjid Cipta Rasa

Tgl. Update : Senin, 10 Agustus 2015 Lihat: 12668

Masih di Kota Cirebon, kali ini kita mengunjungi sebuah masjid tertua di Cirebon, yakni Masjid Agung Cipta Rasa. Masjid yang berlokasi di Jalan Keraton Kasepuhan No.43 kelurahan kasepuhan Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon? ini menjadi salah satu ikon pariwisata Kota Cirebon, terutama wisata ziarah (rohani). Rasanya kurang lengkap jika berkunjung ke kota Cirebon tidak menyambangi dan salat di masjid yang konon dibuat Wali Songo (tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa). 
 
Masjid Agung Sang Cipta Rasa lokasinya berada sekitar 100 meter sebelum pintu masuk ke Keraton Kasepuhan Cirebon, di sebelah kanan jalan. Di seberang Masjid Agung Sang Cipta Rasa terdapat deretan warung-warung sederhana yang menjual bermacam makanan dan minuman khas Cirebon yang bisa dijadikan pemuas lapar dan dahaga pengunjung.
 
Suasana sejuk sangat terasa di depan halaman masjid. Kondisi ini akan semakin terasa sejuk, apabila Anda masuk ke dalam masjid dan menyempatkan salat dhuhur maupun salat ashar, atau salat sunat. Pengurus masjid dengan ramah akan mempersilahkan Anda melaksanakan salat.
 
Banyak jamaah dari kalangan wanita yang juga menyempatkan salat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini. Mungkin karena alasan lain yang mistis sifatnya. Misalnya, sebagai ikhtiar agar mudah mendapatkan jodoh, murah rezeki, atau semakin dikasihi suami, dan lain-lain. Wallahu'alam. 
 
Sebelum memasuki masjid kita akan dihadapkan sebuah gapura atau pintu masuk masjid yang penuh dengan keunikan. Gapura depan Masjid Agung Sang Cipta Rasa terbuat dari susuan batu bata merah bergaya Majapahitan. Pintunya terbuat dari jati berwarna hijau dipadu warna putih. Sedangkan atap Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini berbentuk limasan dan tanpa mahkota masjid pada puncak bangunannya.
 
Lebih ke dalam ada sejumlah tiang. Tiang sebelah kanan yang disangga pelat baja adalah salah satu soko guru Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang kabarnya dibuat oleh Sunan Kali Jaga dari tatal atau serpihan kayu yang disatukan Bagian beranda samping Masjid Agung Sang Cipta Rasa dengan tiang-tiang kayu berukir pada bagian atasnya yang terlihat sudah sangat tua.
 
Di bagian tengah pelataran masjid ini terdapat ukiran kayu jati yang indah. Konon, bagian ini adalah wilayah kekuasaan Kesultanan Kanoman. Sementara, bagian utama masjid menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Kasepuhan. Tidak sembarang orang dapat masuk ke dalam bagian inti masjid yang dipenuhi benda bersejarah, kecuali seizin pengurus masjid.
 
Untuk menuju ruangan utama terdapat sembilan pintu. Jumlah ini melambangkan Wali Songo. Namun, yang paling menarik perhatian para pengunjung masjid termasuk penulis adalah pintu masuk ke bagian dalam inti masjid. Pintu ini sangat kecil dibanding pintu masuk lainnya. Padahal di masjid terdapat sembilan pintu masuk. Namun hanya pintu berukuran kecil inilah yang selalu digunakan, sementara yang lainnya digunakan pada saat salat jumat atau hari besar islam.
 
Pintu ini ukurannya lebar sekitar 40 cm dengan tinggi 160 cm. Menurut penjaga masjid, pintu ini sengaja dibuat mungil agar raja, menteri, bangsawan, atau rakyat jelata sekalipun masuk ke dalam masjid dengan posisi menunduk. Pintu ini memberi tanda bahwa semua manusia sama di hadapan Allah yang tidak membedakannya berdasar status, tetap ketakwaannya semata.
 
Akan banyak hal unik lainnya yang akan Anda rasakan jika salat di masjid ini. Seperti dibagian mihrab terdapat tiga ubin yang mengandung tiga ajaran pokok agama yakni iman, islam, dan ihsan. Konon tiga ubin ini dipasang oleh Sunan Gunung Djati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga. Selain itu pada bagian mihrab masjid, terdapat ukiran berbentuk bunga teratai yang dibuat oleh Sunan Kalijaga.
 
Masjid Agung Sang Cipta Rasa (dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon), sebuah masjid yang terletak di dalam kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon.
 
Konon, masjid ini adalah masjid tertua di Cirebon, yang dibangun sekitar tahun 1480 M atau semasa dengan Wali Songo menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama masjid ini diambil dari kata "sang" yang bermakna keagungan, "cipta" yang berarti dibangun, dan "rasa" yang berarti digunakan.
 
Pembangunan masjid ini kabarnya melibatkan sekitar 500 orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.
 
Konon, dahulunya masjid ini memiliki memolo atau kemuncak atap. Namun, saat azan pitu (tujuh) salat Subuh digelar untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubah tersebut pindah ke Masjid Agung Banten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Karena cerita tersebut, sampai sekarang setiap salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa digelar Azan Pitu. Yakni, azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serba putih.
 
Kekhasan masjid ini antara lain terletak pada atapnya yang tidak memiliki kemuncakk atap sebagaimana yang lazim ditemui pada atap masjid-masjid di Pulau Jawa.
 
Masjid ini terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama. Serta dilengkapi dengan sembilan pintu Jasa SEO yang melambangkan Wali Songo. Selain itu banyak arsitektur yang melambangkan multi etnis yang memadukan gaya Demak, Majapahit, dan Cirebon.
 
Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapat sumur zam-zam atau Banyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulan Ramadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang. Anda tertarik dengan kisah Masjid Agung Cipta Rasa? Silahkan datang sendiri ajak sanak keluarga atau teman untuk wisata berziarah ke Kota Cirebon.
(kiki kurnia/"GM")**

sumber : http://www.klik-galamedia.com/melongok-masjid-cipta-rasa  



   
Artikel Lainnya