Menilik Warisan Galuh

Tgl. Update : Kamis, 28 Januari 2016 Lihat: 12189

MAHKOTA Binokasih dan Siger Emas menjadi daya tarik pengunjung yang datang ke Museum Geusan Ulun Sumedang. Mahkota yang mempunyai nama lengkap Makuta Binokasih Sanghyang Pake ini merupakan salah satu simbol dan peninggalan kerajaan Pajajaran (Sunda). Hingga kini, mahkota tersebut masuk dalam Pusaka Leluhur Sumedang dan menjadi peninggalan Prabu Geusan Ulun 1578 - 1601.

Mahkota ini disimpan di gedung pusaka kompleks Museum Geusan Ulun. Tersimpan dalam lemari kaca segi delapan dengan pengamanan super ekstra. Ini dilakukan, karena mahkota tersebut merupakan mahkota asli raja Pajajaran akhir sebelum runtag atau runtuh.

Terbuat dari emas dengan hiasan batu permata menjadikan mahkota ini sangat spesial. Tidak heran jika pengunjung yang datang ke Museum Geusan Ulun lebih tertarik melihat koleksi master piece ini. Para pengunjung pun mau berlama-lama di gedung ini. Selain mahkota Binokasi, terdapat pula siger, ikat pinggang, serta aksesoris raha lainnya yang merupakan peninggalan asli Raja Pajajaran terakhir. Untuk menambah daya tarik, di gedung ini terdapat pula berbagai jenis senjata pusaka kerajaan, seperti tombak, kujang, dan keris.

Sayang, di tempat ini pengunjung tidak boleh mengeluarkan kamera apalagi mengambil gambar koleksi, terutama mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Ini dilakukan semata-mata untuk keamanan saja. Bahkan sejumlah closed circuit television (CCTV) pun dipasang diberbagai sudut. Sebagai koleksi master piece, perlu mendapat perlakuan yang super ketat.

Untuk masuk ke museum ini cukup membayar tiket masuk Rp 2000/orang. Namun untuk mendapat pengetahuan tentang museum dan Kerajaan Sumedang Larang, ada baiknya Anda menggandeng guide yang siap melayani. Sekalipun para guide ini rata-rata sudah sepuh, namun pengetahuan teng museum dan Sumedang Larang cukup molotok.

Anda akan diajak berkeliling di kompleks museum yang memiliki lima gedung tempat penyimpanan koleksi. Anda pun akan mendapat penjelasan setiap koleksi yang dipamerkan, terutama koleksi tentang Makuta Binokasih Sanghyang Pake.

Seperti yang diterangkan Adang salah seorang guide yang menerangkan Mahkota Binokasih Sanghyang Paki adalah mahkota yang berasal dari Kerajaan Sunda, dan kini tersimpan sebagai koleksi Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Replika mahkota ini terdapat di Museum Sri Baduga, Bandung.

Prakarsa Sanghyang

Konon menurut sumber turun-temurun, mahkota ini dibuat atas prakarsa Sanghyang Bunisora Suradipati, raja Galuh (1357-1371). Mahkota ini digunakan oleh raja-raja Sunda selanjutnya dalam upacara pelantikan raja baru dan menjadi benda pusaka kerajaan hingga Kerajaan Sunda runtuh.

Pada waktu ibukota kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran diserbu oleh pasukan Banten (1579), mahkota ini berhasil diselamatkan oleh para pembesar Kerajaan Sunda yang berhasil meloloskan diri, yaitu Sayang Hawu, Tirong Piot, dan Kondang Hapa. Mahkota ini dibawa ke Sumedanglarang dan diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun dengan harapan dapat menggantikan dan melanjutkan keberadaan dan kejayaan Kerajaan Sunda. Sejak itu mahkota ini menjadi benda pusaka para raja Sumedanglarang dan kemudian para Bupati Sumedang. Sejak pemerintahan Bupati Pangeran Suria Kusuma Adinata (1937-1946), mahkota tersebut dipakai untuk hiasan kepala pengantin keluarga Bupati Sumedang.

Selain Mahkota Binokasih Sanghyang Pake terdapat pula koleksi senjatan pusaka Pedang Ki Mastak (peninggalan Prabu Tajimalela 721-778), Keris Ki Dukun (peninggalan Prabu Gajah Agung 893 - 998), Keris Nagasasra (Peninggalan Pangeran Kusumahadinata 1791 - 1828), Kujang (peninggalan Prabu Geusan Ulun 1578 - 1601 ), Tombak Trisulla (peninggalan Prabu Geusan Ulun 1578 - 1601), Tempat Sirih (peninggalan Pangeran Suria Kusumah Adinata 1836 - 1882), Kitab Cariosan Prabu Siliwangi (peninggalan Pangeran Panembahan 1656 - 1706), Gamelan Sari Oneng Parakan Salak (peninggalan Sultan Mataram) dan koleksi lainnya.

Gedung bersejarah

Sedangkan kelima gedung yang bersejarah, yakni Gedung Srimanganti yang menjadi gedung utama museum. Gedung ini didirikan tahun 1706, pada masa pemerintahan Dalem Adipati Tanoemadja, arsitektur Gedung Srimanganti bergaya kolonial. Kata Srimanganti mempunyai arti tempat menanti-nanti tamu kehormatan.

Dahulu gedung Srimanganti dikenal sebagai rumah "Land Huizen" (Rumah Negara). Fungsi gedung Srimanganti pada masa itu adalah tempat tinggal buat Bupati serta keluarganya, diantaranya Pangeran Kornel, Pangeran Sugih, Pangeran Mekah dan Dalem Bintang. Pada tahun 1942 Srimanganti tidak digunakan sebagai rumah tinggal Bupati serta keluarganya oleh Dalem Aria Soemantri dijadikan Kantor Kabupaten, sedangkan Bupati serta keluarganya tinggal di Gedung Bengkok/ Gedung Negara - sekarang Gedung Srimanganti terdaftar pula dalam Monumenter Ordonantie 1931 sebagai bangunan Cagar Budaya yang dilindungi oleh pemerintah. Pada tahun 1982 Gedung Srimanganti mengalami pemugaran karena sempat dijadikan kantor Pemda, setelah pemugaran Gedung Srimanganti diserahkan kembali kepada Yayasan Pangeran Sumedang oleh Direktur Kebudayaan Depdikbup pada masa itu.

Gedung Bumi Kaler. Gedung ini dibangun tahun 1850, pada masa pemerintahan Bupati Pangeran Soeria Koesoemah Adinata/Pangeran Sugih yang memerintah Sumedang tahun 1836-1882. Gedung Bumi Kaler beberapa kali mengalami rehab tahun 1982, 1993 dan tahun 2006, namun tidak merubah dari bentuk aslinya. Sama halnya dengan Gedung Srimanganti, Bumi Kaler sudah terdaftar dalam Monumeter Ordonantie 1931 karena termasuk dalam bangunan yang dilindungi oleh pemerintah sebagai Benda Cagar Budaya. Gedung Bumi Kaler menjadi gedung Museum Prabu Geusan Ulun pada tahun 1982.

Gedung Pusaka adalah gedung museum yang kelima dari enam gedung yang ada di Museum Prabu Geusan Ulun sebagai gedung baru. Fungsi Gedung Pusaka sesuai namanya sebagai tempat khusus menyimpan benda-benda Pusaka peninggalan para leluhur Sumedang. Pembangunan Gedung Pusaka dibangun karena Gedung Gendeng waktu itu sebagai tempat menyimpan pusaka sudah tidak memadai, sehingga atas prakarsa Ibu Hj. Rd. Ratjih Natawidjaya ibunda dari Prof. DR. Ginanjar Kartasasmita, rencana Gedung Pusaka bisa dilaksanakan dengan melibatkan Yayasan Pangeran Sumedang, Rukun Wargi Sumedang, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sumedang, Departemen Pariwisata Sumedang, Pemda Sumedang dan Direktorat Permuseuman Propinsi Jawa Barat. Pada tanggal 25 Maret 1990 pembangunan Gedung Pusaka mulai dikerjakan.

Gedung Gendeng didirikan tahun 1850, pada masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata atau Pangeran Sugih.? Gedung Gendeng waktu itu digunakan untuk menyimpan Pusaka-Pusaka lelehur dan senjata lainnya. Bangunan tersebut dibuat dari kayu dan berdinding Gedeg serta berlantai batu merah, selain itu Gedung Gendeng juga tempat menyimpan Gamelan Pusaka. Gedung Gendeng mengalami beberapa kali pemugaran dan rehabilitasi bangunan, pertama tahun 1950, 1955 dan tahun 1993. Namun karena benda Pusaka-pusaka makin banyak sampai akhirnya Gedung Gendeng tidak memadai lagi untuk menyimpan benda-benda Pusaka tersebut maka dibangunlah Gedung Pusaka khusus untuk menyimpan benda-benda Pusaka. Smoking Area Gedung Gendeng sekarang beralih fungsi menjadi Gedung sosial budaya. Gedung Gendeng merupakan Museum Yayasan Pangeran Sumedang pertama yaitu pada tahun 1973.

Gedung Gamelan didirikan tahun 1973, oleh Pemda Sumedang atas sumbangan dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, fungsi gedung ini sebagai tempat khusus menyimpan Gamelan - Gamelan Pusaka. Gedung Gamelan mengalami renovasi pada tahun 1993, selain sebagai tempat menyimpan Gamelan, gedung Gamelan juga dipakai sebagai tempat latihan tari klasik setiap hari minggu . Setiap satu tahun satu kali pada bulan Maulud semua Gamelan Pusaka dicuci dan tidak dibunyikan latihan tarif pun diliburkan. Gedung Gamelan merupakan Gedung Museum Yayasan Pangeran Sumedang yang pertama.

Gedung Kereta pada saat perencanaan pembangunan Gedung Pusaka direncanakan pula pembangunan Gedung Kereta. Gedung Kereta merupakan bangunan terakhir dari Museum Prabu Geusan Ulun yang dibangun pada tahun 1990. Fungsi Gedung ini untuk menyimpan Kareta Naga Barong sebagai replika dari Kareta Naga Paksi peninggalan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata / Pangeran Sugih dan kereta lainnya yang menjadi koleksi Museum Prabu Geusan Ulun.
(kiki kurnia/"GM"/berbagai sumber)**



   
Artikel Lainnya