"Nyangku" Tradisi Nyaangan Laku Masyarakat Panjalu

Tgl. Update : Senin, 01 Pebruari 2016 Lihat: 12235

Nyangku yang mempunyai arti nyaang laku (menerangi prilaku), merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakan oleh para keturunan kerajaan Panjalu dan masyarakatnya. Biasanya, tradisi ini dilaksanakan setiap tanggal lima likur, tujuh likur atau salapan likur. Untuk tahun ini, nyangku digelar tanggal 25 Maulud  atau 29 Rabiul Awal 1436 H.

Tradisi nyangku, pelaksanaannya mirip dengan acara Panjang Jimat yang dilakukan oleh Kasultanan Cirebon setiap tanggal 1 Maulud, maupun acara serupa di Yogyakarta atau Solo. Bedanya, tradisi Nyangku berakhir di komplek makam Prabu Borosngora yang berada di tengah Nusa Gede Situ Panjalu, setelah diarak keliling alun-alun Panjalu dan dimandikan di sana.
 
Salah seorang sesepuh Panjalu, R Haris R Cakradinata SE menyebutkan, tradisi nyangku bukan untuk memuja-muja barang peninggalan leluhur, tetapi upacara tersebut diselenggarakan untuk mengingat jasa dan perjuangan leluhur masyarakat Panjalu, yakni Prabu Sanghiang Borosngora. Tradisi itu diikuti oleh masyarakat Panjalu yang berasal dari berbagai daerah.

"Intinya, kita ingin seluruh masyarakat Panjalu tidak melupakan jasa para leluhur dan tetap menjaga tali silaturahim," katanya.

Prabu Sanghiang Borosngora adalah, Raja Panjalu yang arif dan bijaksana itu yang dianggap leluhur oleh  masyarakat Panjalu dan juga penyebar agama Islam pertama di daerah tersebut. Beberapa bukti peninggalannya masih bisa dijumpai di daerah ini, seperti benda-benda pusaka berbentuk pedang, keris, kujang dan lainnya. Satu di antaranya adalah pedang pemberian Sayyidina Ali, sahabat Nabi Muhammad SAW, ketika Borosngora berkunjung ke Mekah.

Benda-benda yang dianggap pusaka itu disimpan dan dirawat dengan baik di Bumi Alit, sebuah bangunan kecil berbentuk panggung di dekat alun-alun Panjalu. Melalui pusakanya itu, Sanghiang Borosngora berpesan kepada anak cucunya, jika ingin melihatnya tidak perlu mencari di mana ia berada, tetapi cukup dengan melihat benda-benda pusakanya.

"Lain Borosngora jadi parabot saperti pedang jeung keris, tapi tuluykeun syiar Islam," katanya mengingatkan bahwa bukan ia menjelma pada benda-benda pusaka tersebut, namun itu untuk melanjutkan syiar Islam.

Nyangku yang diselenggarakan tiap tahun merupakan tuntunan yang diberikan leluhur masyarakat Panjalu untuk anak-cucunya dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

"Singsaha anak incu kaula, isuk jaganing geto hirupna ingkar tina papagon hirup jeung papagon agama, hirupna moal jamuga,", ia mengingatkan anak cucunya yang ingkar dari ajaran hidup dan ajaran agama, esok lusa pasti akan tersesat nasibnya.

***

SECARA tradisi nyangku setiap tahun diselenggarakan pada setiap hari Senin, menjelang akhir bulan Maulud setelah sehari sebelumnya diselenggarakan peringatan Maulud Nabi Besar Muhammad SAW. Tahun ini upacara diselenggarakan 19 Januari yang dihadiri ribuan pengunjung.

Tradisi Nyangku tahun ini dijaga puluhan anggpta Front Pembela Islam (FPI). Entah apa maksudnya, puluhan anggota FPI menjaga tradisi Nyangku sudah berjalan ratusan tahun ini.

Pagi sekitar pukul 09.30, benda-benda pusaka peninggalan Sanghiang Borosngora dikeluarkan dari Bumi Alit, lalu dibawa dengan sangat hati-hati menuju tempat upacara. Benda-benda itu digendong, tak ubahnya menggendong anak bayi.

Rombongan yang terdiri dari tokoh masyarakat dan sesepuh Panjalu berjalan dalam deretan paling depan diiring pembawa benda pusaka dan penabuh kesenian gembyung. Sementara ratusan pengiring lainnya berada dalam barisan paling belakang mengantarkan perjalanan benda pusaka tersebut ke tempat upacara di halaman Kantor Desa Panjalu.

Puncak upacara dan sekaligus smoking area merupakan saat yang paling dinantikan ditandai dengan pembersihkan benda pusaka tersebut menggunakan air yang diambil dari beberapa mata air di Panjalu, kemudian dicampur jeruk nipis. Di bawah panggung bambu yang digunakan sebagai tempat mencuci benda-benda pusaka tersebut, ratusan warga mengulurkan tangannya mengharapkan sisa air yang digunakan mencuci benda pusaka. Mereka berharap berkah di saat menghadapi lilitan kesulitan ekonomi seperti sekarang.

Tahun ini, tradisi nyangku selain dipimpin oleh para leluhur Panjalu, juga dipimpin Bupati Ciamis, H. Iing Syam Arifin. Namun kedatangan orang nomor satu di Ciamis ini tidak mengurangi kehidmatan pelaksanaan tradisi Nyangku.

Sementara Ketua I Yayasan Borosngora, Ir. H. Enang Supena mengatakan, nyangku artinya nyaangan laku. Dikatakan dia, prosesi nyangku di Panjalu ini bentuknya hampir sama dengan pajang jimat di Cirebon atau upacara serupa di daerah lain, misalnya Sekatenan di Yogya.
"Bukan untuk memuja-muja barang peninggalan leluhur, tetapi upacara tersebut diselenggarakan untuk mengingat jasa dan perjuangan leluhur masyarakat Panjalu, yakni Prabu Sanghiang Borosngora," katanya.

Sumber: http://www.galamedianews.com/budaya/7083/nyangku-tradisi-nyaangan-laku-masya rakat-panjalu-.html



   
Artikel Lainnya