Yuk Menelusuri Nilai-Nilai Tradisi Kampung Naga

Tgl. Update : Sabtu, 16 September 2017 Lihat: 16791

Sejak dulu, Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya sangat dikenal wisatawan karena keunikannya, yakni mempertahankan nilai-nilai tradisi. Di tengah modernisasi, penduduk Kampung Naga tetap mempertahankan tradisi dan menjunjung nilai-nilai luhur nenek moyangnya.

Sebuah kawasan yang persis di pinggir Jalan Raya Garut - Tasikmalaya, Kampung Naga memang sangat menarik bagi siapapun yang baru pertama kali datang ke sana. Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Sawalu, Tasikmalaya.

Ucapan selamat datang dan patung Kujang (senjata khas Sunda) menyambut Anda begitu memasuki kawasan wisata adat Kampung Naga. Untuk bisa menikmati suasana Kampung Nada, Anda harus menuruni anak tangga di lahan bukit dengan kemiringan 45 derajat. Sungguh, tidak mudah menapaki deretan tangga yang curam seperti itu, apalagi bagi yang tak terbiasa naik turun bukit.

Menurut pemandu, anak tangga menuju Kampung Naga jumlahnya 439 buah dengan panjang sekitar 400 meter. Yang unik, konon siapa pun yang mencoba menghitung anak tangga jumlahnya akan berubah-ubah. Mungkin yang menghitung lelah, jadi konsentrasinya berkurang. Sama sekali bukan karena hal mistis.

Tepat di belokan tangga, dari atas ketinggian terlihat atap ijuk abu kehitaman rumah-rumah penduduk Kampung Naga. Sangat kontras dengan sekelilingnya yang tampak hijau dan subur. Setelah melewati anak tangga, jalan setapak, dan pematang sawah akhirnya sampai juga di kawasan perumahan penduduk Kampung Naga yang luasnya kurang lebih 1.5 hekter ini. Nuansa tradisional begitu sangat terasa.

Mulai dari jalan perkampungan yang didominasi tanah dan bebatuan yang ditata sedemikian rupa, bangunan perumahan yang terbuat dari kayu dan bambu yang dibiarkan begitu saja atau hanya dipoles kapur putih, tanpa alat elektronik serta listrik.

Semua bangunan berkonsep rumah panggung dengan pondasi bongkahan batu besar pada setiap penjuru bangunan. Batu yang juga berfungsi sebagai penyangga hanya menancap tidak lebih dari 5 sentimeter ke dalam tanah. Meskipun  terlihat sederhana dan rapuh, tidak ada bangunan di Kampung Naga yang ambruk saat gempa besar berskala 7,2 richter mengguncang Tasikmalaya beberapa tahun lalu. Padahal, banyak bangunan permanen di sekitar Tasikmalaya dan Garut mengalami kerusakan parah.

Bagi penduduk Kampung Naga, setiap bangunan yang ada di Kampung Naga itu diibaratkan sebagai tubuh manusia. Atapnya yang terbuat dari ijuk diibaratkan kepala, bangunannya sebagai badan, dan batu penyangga sebagai kaki. Dengan keyakinan tersebut, mereka merawat bangunan sebagaimana merawat tubuh manusia.

Dengan konsep yang telah dibuktikan ketangguhannya, banyak tempat makan dan café-café di beberapa daerah termasuk Kota Bandung mempercayakan konsep pembangunannya kepada ahli bangunan dari warga Kampung Naga. Tentunya dengan mengusung keunikan, kenyamanan, dan keamanan bangunan tersebut.

Total bangunan yang ada di Kampung Naga hanya ada 103 bangunan, tidak boleh lebih dan kurang. Terdiri dari 100 bangunan rumah warga dan 3 bangunan fasilitas umum seperti Masjid, Balai Pertemuan, dan Lumbung. Kampung dihuni oleh 314 warga. Sebagai pembatas kampung, di sekeliling kampung dipasang bambu pendek.

Mempertahankan Tradisi

Sebagai kampung adat, siapa pun yang bertempat tinggal di Kampung Naga harus patuh pada tata aturan, adat istiadat, dan tradisi Kampung Naga tanpa terkecuali, termasuk saat membangun rumah. Setiap rumah di Kampung Naga dibangun menghadap utara dan selatan sehingga satu dengan yang lain saling berhadap-hadapan serta saling membelakangi terhadap barisan rumah berikutnya.

Setiap rumah tidak memiliki pintu belakang. Menurut kepercayaan, jika rumah memiliki pintu masuk dan pintu keluar, maka setiap rezeki yang masuk pintu depan akan keluar lagi melalui pintu belakang.

Setiap rumah di Kampung Naga tidak memiliki perabotan di dalam rumah selain lemari tempat menyimpan barang-barang dan alat dapur. Tidak ada kursi, meja, tempat tidur, dan perabotan rumah tangga lainnya. Mereka memasak menggunakan tungku kayu bakar. Dapur dan ruang tamu di tempatkan bersisian.

Setiap rumah di Kampung Naga tidak menggunakan listrik, meski pun pemerintah daerah siap memberikan fasilitas listrik untuk warganya, sehingga tidak ada satu pun alat elektronik ada di sana. Padahal secara materi mereka sanggup membelinya.

Apa yang diterapkan di Kampung Naga bukan semata-mata untuk menimbulkan keunikan, melainkan untuk mempertahankan tradisi yang memang sudah terasa manfaatnya. Misalnya saja menggunakan ijuk sebagai atap rumah. Ijuk memberikan rasa dingin dan adem pada siang hari dan memberikan rasa hangat pada malam hari. Ijuk bisa bertahan hingga 40 tahun sehingga lebih ekonomis dibanding menggunakan genting tanah atau genting beton.

Tanpa meja tamu membuat warga Kampung Naga tidak membeda-bedakan tamu yang datang berkunjung, semua duduk sama rendah di atas lantai kayu. Sebagaimana halnya di hadapan Yang Mahakuasa, semua manusia derajatnya sama. Filosofi yang sederhana, tetapi sangat dalam.

Begitu pun dengan tanpa tempat tidur, semua tamu yang datang, dari kalangan mana pun tidur di atas lantai kayu di ruangan yang lapang. Semua diperlakukan sama, tanpa perbedaan sama sekali. Tanpa mengenal pangkat, jabatan, dan popularitas.

Bentuk rumah sendiri menunjukan sikap kesederhanaan dan lebih terasa membaur dengan alam. Unsur alam begitu melekat pada setiap bagian bangunan, mulai dari kayu, bambu, ijuk, dan batu.

Oh iya, untuk memenuhi kebutuan kayu dan bambu untuk bangunan, warga Kampung Naga memiliki lahan khusus sehingga tidak sembarangan menebang pohon dan bambu. Bahkan untuk kebutuhan kayu bakar untuk memasak pun ada lahan sendiri. Ada hutan di sekitar Kampung Naga yang dikeramatkan hingga benar-benar dijaga keutuhan dan kelestariannya, efek positifnya kebutuhan air bersih bagi warga pun tak pernah kering.

Warga Kampung Naga tidak hanya menjaga lingkungan sekitar, lingkungan warga pun dijaga sejak dini. Salah satu caranya, setiap rumah tidak memiliki toilet atau kamar mandi sendiri. Setiap warga harus menuju kakus umum yang berada di luar tanah adat. Begitu pun kandang ternak atau kolam ikan yang menjadi mata pencaharian tambahan warga, semua berada di luar batas pemukiman Kampung Naga.

Warga Kampung Naga adalah pemeluk agama Islam. Ada sebuah masjid berada di tengah-tengah perkampungan, bersebelahan dengan balai pertemuan warga. Di tempat inilah, pusat segala aktivitas warga.

Mata pencaharian utama warga Kampung Naga bercocok tanam. Mereka memiliki lahan sawah yang subur di sekitar kampung dan di luar Kampung Naga. Mereka menanam padi setahun dua kali, setiap Bulan Januari dan Bulan Juli, sehingga tidak perlu bahan kimia untuk membasmi serangga. Mereka percaya, pada bulan-bulan tersebut, sawah bebas dari hama. Beras mereka pun benar-benar beras organik yang sehat dari obat-obatan.

Setiap panen, tanpa diminta, mereka menyisihkan sebagian untuk disimpan di lumbung padi umum. Lumbung tersebut dimanfaatkan oleh warga untuk kepentingan bersama seperti menyambut tamu atau upacara adat.

Mata pencaharian lainnya diperoleh dari usaha ternak, budi daya ikan, dan jasa keahlian warga seperti ahli bangunan dan kerajinan tangan. Kerajinan tangan warga sangat diminati wisatawan yang berkunjung di Kampung Naga.

Sebagai tempat wisata, Kampung Naga juga melestarikan beberapa jenis kesenian warga, di antaranya angklung sered, Terbang Sejak, dan Terbang Gentung. Kesenian Angklung dan Terbang Sejak bersifat hiburan dan bisa dimainkan kapan pun. Sementara Terbang Gentung hanya dimainkan pada waktu-waktu tertentu saja, pada saat acara keagamaan.

Terbang Sejak dan Terbang Gentung adalah kesenian dengan alat musik serupa rebana. Alat musik Terbang Sejak terdiri dari beberapa Contoh Makalah susunan alat musik berbagai ukuran mulai dari yang kecil hingga besar. Alat musik Terbang Gentung menggunakan alat musik berukuran besar saja.

Sejak kecil, anak-anak warga Kampung Naga sudah diperkenalkan pada kesenian-kesenian tersebut sehingga ke mana pun mereka melangkah pergi, mereka tidak melupakannya. Mereka tidak dilarang mengenal kesenian lain, asalkan begitu mereka kembali menginjak Kampung Naga, mereka tidak membawa apalagi mempermainkannya di Kampung Naga. Demi kelestarian kesenian, kelestarian adat-istiadat, kelestarian lingkungan, dan kelestarian alam semesta ciptaan Yang Maha Esa. (KK)

sumber : http://www.galamedianews.com/wisata/71936/yuk-menelusuri-nilainilai-tradisi- kampung-naga.html



   
Artikel Lainnya