Alam Santosa, Pasir Impun, Cimenyan, Kabupaten Bandung Surga Tersembunyi di Bandung Timur

Tgl. Update : Minggu, 26 Pebruari 2012 Lihat: 6124

SORE itu mentari baru saja terbenam, setelah seharian bekerja keras menyinari bumi dan memberi cahaya kehidupan bagi warga bumi. Rona kemerahan di ufuk barat tampak sangat indah dan menawan, yang mungkin sangat susah dijumpai di tempat lain. Panorama alam matahari terbenam merupakan salah satu keunggulan yang ditawarkan kawasan wisata Alam Santosa, Pasir Impun, Kec. Cimenyan, Kab. Bandung, selain sejumlah keunggulan lainnya.
 
Memang sejatinya, pengunjung dapat menyaksikan sunset dengan latar belakang Kota Bandung, bila cuaca sedang bersahabat. Di malam hari, kerlap-kerlip lampu semakin menambah pesona kawasan wisata yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya A.H. Nasution (Ujungberung) ini. Dengan luas mencapai 4 ha, Alam Santosa menawarkan ekowisata yang sudah jarang ditemukan di seputar Kota Kembang.
 
Kembali ke leuweung atau back to nature tampaknya memang menjadi konsep kawasan wisata yang dikemas mantan Ketua DPRD Jabar dan Komisi II DPR RI, dan kini menjabat Duta Sawala (Sekjen) Baresan Olot Tatar Sunda, Drs. H. Eka Santosa. Semua benda yang ada di kawasan yang memiliki 4 pondok penginapan (cottage) ini, mencirikan sesuatu yang khas dan unik, yaitu menyatu dengan alam.
 
Seperti alat-alat yang terdapat dalam pondok bergaya rumah panggung, kental sekali nuansa alamnya. Sebab mengandalkan potensi dari daerah setempat atau lebih dikenal dengan kearifan lokal. Tempat tidur menggunakan dipan kayu dengan dilapisi kapuk, dinding rumah terbuat dari anyaman bambu khas Kampung Naga, perlengkapan di kamar mandi menggunakan bebatuan dari Cisanggarung yang berjarak sekitar 1 km dari Alam Santosa.
 
Begitu memasuki kawasan wisata yang berada di kaki Gunung Manglayang ini, suasana sejuk langsung terasa. Hawa alam pegunungan dengan gemericik air dan suara binatang-binatang hutan, terdengar begitu syahdu, seakan mengajak pengunjung untuk bersenda gurau atau berdendang ria. Suara jangkrik, tonggeret, kodok, burung dan lain-lain, terdengar bersahutan dengan irama yang khas menyerupai alunan nada memuji keagungan Sang Pencipta.
 
Karena tema yang diangkat ekowisata, pengunjung sepertinya diajak untuk menyatu dengan alam. Pepohonan rimbun dan langka, areal persawahan, kolam pemancingan ikan, kawasan outbound di alam terbuka, kearifan lokal, makanan perdesaan, mengenal adat dan istiadat masyarakat setempat, penampilan seni tradisional masyarakat setempat, melongok penambangan batu dan hasil olahannya, menanam pohon dan panen tanaman padi, dll. menjadi sajian yang amat sangat sayang untuk dilewatkan.
 
Dengan keunggulannya sebagai ekowisata yang sangat berpihak pada alam dan kearifan lokal, Alam Santosa sangat cocok dijadikan tempat refreshing akhir pekan bersama keluarga atau rekan bisnis setelah disibukkan oleh berbagai rutinitas pekerjaan. Turis asing pun seperti tak mau ketinggalan untuk merasakan keindahan alam di kawasan ini. Seperti diungkapkan turis Belanda, Jaup dan istrinya, Enliesbeth, yang menginap 4 hari di Alam Sentosa. "Saya merasa sangat betah di sini, karena semuanya serba alami dan menyimpan banyak kearifan lokal. Ini ibarat surga bagi saya," ungkap Jaup yang merupakan ahli yoga di negaranya.
 
Berbagai sajian dan keindahan yang ditawarkan Alam Santosa, menjadikan kawasan ini bak surga tersembunyi di kawasan Bandung Timur. Siapa pun tak akan percaya sebelum mencoba sendiri, bagaimana menawan dan eksotiknya Alam Santosa sebagai kawasan konservasi dan ekowisata. So, rasakan sendiri sensasinya.

(efrie ch./"GM")** 



   
Artikel Lainnya